Selasa, 14 Juni 2011

Ruang Pertemuan Tuhan (Penetrasi Ruang Spiritual)

Suatu kesempatan Nietzsce pernah mengungkapkan suatu ungkapan “Tuhan telah mati, kita telah membunuhNya” (Hardiman, 2003:1).
Di era ini, kegagalan demi kegagalan dalam menikmati religiusitas semakin merajalela. Kondisi hidup yang terasa semakin berbeban seakan memaksa kita untuk “membunuh tuhan”. Tuhan mati di dalam kehidupan kita. Realitas kita menenggelamkan eksistensiNya. Entitas dan kesadaran “berada” kita semakin melunturkan “keberadaanNya”. Entah itu terjadi di dalam kehidupan seorang Muslim, Kristiani, ataukah agama lain. Lalu apakah sebenarnya religiusitas yang senantiasa dilakoni sehari-hari? Islam dengan shalatnya, Kristiani dengan ibadahnya, semua itu hanyalah rutinitas semata-mata. Demikian yang terjadi karena segala pelaksanaan itu tidak terjadi dalam “Ruang Spiritual” kita, itu hanya terjadi di dalam “Ruang Realitas” kita, bahwa “Inilah realitasnya.... Aku seorang yang beragama”.
Kecenderungan bersikap dualistik terhadap dimensi alam-nyata dan ghaib-adalah suatu faktor yang menyebabkan “tuhan terbunuh”. Bersikap dualistik yang kami maksudkan disini adalah berprinsip bahwa kita berada dalam alam riil dan Tuhan berada dalam dimensi yang lain; berprinsip bahwa hanya akan bertemu dengan Tuhan jika sudah melewati kematian, sehingga saat ini Tuhan seakan tidak hadir dalam keseharian kita. Yang hadir dan terlibat dalam keseharian kita malah kebisingan nurani, kecemasan, ketakutan, kebahagiaan, keterpaksaan dan rutinitas yang menyerupai lingkaran tak berujung. Adakah Tuhan? Siapakah Dia? Dimanakah berada? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa berakibat fatal bagi yang salah menjawabnya. Betapa tidak? Kitab suci bisa menjawabnya “Dialah yang memberi dan mengabulkan do’a”, tetapi do’aku tidak pernah terkabulkan?, “Dialah yang maha memberikan rejeki”, tetapi aku selalu dalam keadaan melarat, “Dialah yang menguasai dan menggerakkan semesta”, lalu dimanakah Dia? Kondisi yang seperti ini bisa menjerumuskan penanya dan tertanya ke dalam lembah kekecewaan paling dalam terhadap Tuhan.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang maknanya “Suatu kelak nanti, agama hanya menjadi simbol, rumah ibadah hanya menjadi bangunan, kitab suci hanya menjadi buku-buku...”, hal ini mengisyaratkan kondisi dimana tuhan “benar-benar hilang”. Keyakinan terhadap kebenaran kitab suci mulai luntur, dan akhirnya agama beserta sejarahnya menjadi sebuah mitos panjang.
Hal-hal ini terjadi karena tiap-tiap pribadi mencari Tuhan “tidak pada tempatnya”. Apakah Tuhan bertempat? Tuhan tidak bertempat, tetapi “pencarian Tuhan” ada tempatnya. Suatu ruang khusus dimana manusia difasilitasi untuk dapat hadir bersama-sama Dia, yaitu “Ruang Spiritual”.
Di dalam ruang ini, manusia berbincang dengan Tuhan seperti berbincang dengan Tuhan (Tidak dapat diperumpamakan bertemu dengan Tuhan seperti bertemu dengan entitas yang lain selain Dia). Tuhan berwujud sebagaimana wujudNya, yang tidak tergambarkan, tidak terpikirkan,. “Ruang Spiritual” bukan kelas untuk belajar, bukan kelas untuk berpikir; tempat untuk berpikir adalah “Ruang Intelektual”, dimana logika dan rasio menjadi raja. Tetapi di dalam “Ruang Spiritual”, logika dan rasio hanya akan menjadi “penonton yang tertidur”, setelah terjaga, ada kesadaran “bertemu Tuhan”, namun tak bisa memikirkan bahkan membayangkan wujud Tuhan. Seperti pepatah sufi “Man lam yazuq lam ya’rif”, “Barangsiapa yang tidak mengalaminya atau merasakannya, maka tidak akan pernah memahaminya”.
Dalam risalah ini, kami akan menyuguhkan segelintir ide mengenai Tokoh di balik segala bentuk eksistensi ini. Pikiran ini tidak akan mungkin menjelaskan pertemuan ataukah letak “Ruang Pertemuan” itu, melainkan memikirkan perbuatanNya terhadap segala entitas berdasar pada kodratNya, iradatNya, sehingga ada suatu pengetahuan intelektual dan logis mengenai siapakah yang ditemui dan bagaimanakah kita memahamiNya.

TUHAN; Ada dan Diadakan

Ide mengenai Tuhan tumbuh sekitar 14.000 tahun yang lalu di dunia kuno Timur Tengah. Ketika keilmiahan bukan suatu ukuran kebenaran, realitas bukanlah suatu fenomena melainkan suatu keajaiban, ketika naluri dan emosi menjadi mata dan telinga, bahkan akal menuruti emosi dan naluri.
Masyarakat kuno meyakini bahwa ‘ADA’ yang sedang mengawasi, mengatur, menghukum dan memberikan. Keyakinan ini kemudian direalisasikan dalam berbagai bentuk curahan hasrat, pemujaan, singkatnya adalah ritual kuno. Ritual kuno adalah sarana untuk mengekspresikan keyakinan mereka mengenai Tuhan.
Perasaan bahwa ‘ADA’ sedang mengawasi melahirkan suatu keinginan untuk bertemu dengan Sang Ada itu. Masyarakat tersebut mencari ke empat penjuru bumi, menggali bumi, menyelami dasar lautan, namun tak menemukan sang ‘ADA’. Hanya satu arah saja yang tak dapa ditempuh, yaitu langit. Tuhan kemudian diyakini bersemayam dilangit, yang berkonotasi pada ketinggian, ketaktersentuhan, keluhuran, dan ketaktergambaran. Tuhan tak pernah turun untuk bertemu dengan mereka, tak pernah tampil dalam wujudNya yang dapat digambarkan oleh ingatan, dan akhirnya tuhan ini tergantikan oleh tuhan-tuhan yang lebih mudah dijangkau (Armstrong, 2004:27) atau berhalanya para Paganis. Sebenarnya, dorongan emosi atau desakan naluri bertuhanlah yang memaksa para manusia kuno untuk menyembah tuhan-tuhan yang mereka ciptakan itu. Dalam kondisi ini, tuhan seolah-olah Ada juga Diadakan.
Masyarakat kuno pada saat itu “meyakini” bahwa “ADA yang mengawasi”. Makna “ADA” dikenal karena hadir, terindrai, tergambarkan. Lalu berasal dari manakah “ADA” yang tidak riil ini? Kecurigaan mungkin suatu alasan, namun keyakinan bukanlah sekedar hasil mengira-ngira, karena jujur atau tidak, ide mengenai Tuhan (baik monoteisme maupun politeisme) yang hidup hingga saat ini, berasal dari “Naluri Bertuhan”nya para primitif ini. Sehingga jika kita mengatakan bahwa ide mengenai Tuhan berasal dari kecurigaan “mungkin ada yang mengatur semesta”, maka kita harus rela bahwa tuhan yang kita yakini ini semata-mata hasil kreatifitas masyarakat zaman kuno.
Plato merumuskan suatu konsep bahwa segala sesuatu ada penyebab awalnya, penggerak utama, atau yang disebutnya Kausa-Prima. Jika Kausa-Prima adalah penggerak, maka dia bergerak. Jika yang bergerak senantiasa digerakkan, maka siapakah yang menggerakkan Kausa-Prima? Kausa-Prima tidak lain hanyalah “jalan buntu” yang ditemukan oleh Plato karena ketidaksanggupan akalnya untuk menalari eksistensi Tuhan. Sebagian orang berkata bahwa alam semesta merupakan bukti keberadaan Tuhan, namun mereka yang berkata seperti itu juga dalam kesehariannya menyaksikan ayam bertelur, tunas berkembang, kambing beranak, seolah-olah alam yang sudah ada yang menciptakan entitas alam yang kemudian (biogenesis), dan jika alam ini ada yang menciptakan, maka siapakah yang menciptakan Tuhan? Kendati ini adalah pertanyaan kafir, namun pencarian kebenaran harus melewati setapak-setapak kritis.
Satu hal yang senantiasa dilupakan oleh banyak orang, termasuk Karen Armstrong pencipta The History of God (Sejarah Tuhan), adalah bahwa mereka terlalu egois. Mereka hanya menyadari keberadaan dan kondisi “pikirannya”, mereka menganggap bahwa mereka yang menguasai pikiran, mengendalikan pikiran, dan mereka takut untuk menyadari bahwa “pikiran juga dikendalikan oleh keterbatasannya sendiri”.
Dalam buku Sejarah Tuhannya, Karen Armstrong mengeksploitasi segenap pengetahuannya mengenai Tuhan orang Muslim, Kristen, Yahudi, Mistikus, Filosof dan para Reformis. Armstrong berbicara panjang lebar mengenai ide tentang Tuhan bagi orang lain, tanpa memperdulikan idenya sendiri mengenai Tuhan yang mengadakannya. Dia tidak berhasil menemukan Tuhan karena dia berharap bertemu denganNya di dalam gereja dan biara, atau dipertemukan oleh orang lain yang sama lemahnya, yang juga belum pernah bertemu dengan Tuhannya sendiri. Armstrong berimpian dapat mengalami pertemuan dengan Tuhan sebagaimana yang dialami para nabi dan rasul, sebagaimana diceritakan dalam riwayat-riwayat.
Para nabi dan rasul pada dasarnya bertemu dengan Tuhan sebagaimana yang diceritakan, karena posisi dan kapasitas mereka adalah sebagai “utusan”. Manusia lain yang bukan “utusan” akan memiliki skala prioritas di hadapan Tuhan secara berbeda. Namun hal ini bukan berarti bahwa Tuhan tidak dapat ditemui, melainkan ada ruang khusus dimana Tuhan mau menerima kita. Dan pertemuan itulah yang akan memahamkan kepada kita, bahwa sesungguhnya Tuhan memang ada. Ada tidak harus memiliki wujud materi, sedangkan akal pikiran sendiri yang mengelola ilmu pun tidak memiliki wujud materi. Namun bukan berarti bahwa akal dan pikiran itu tidak ada, melainkan dialah yang mengkonfirmasikan kepada kita akan keberadaan suatu entitas. Maka sesungguhnya “Ada” berada di antara dua pengertian, “Ada secara mutlak dalam dirinya atau keadaannya sendiri”, dan “Ada sebagai hasil konfirmasi akal pikiran kita”. Dengan kata lain, segala entitas ini Ada dan Diadakan.
Kita harus berani menerima kemungkinan bahwa Tuhan memang Ada dalam realitasNya, dan wujudNya memang tak terwujud sebagaimana yang kita inginkan. Kemudian kita menginginkan agar Dia mewujud dalam cara yang kita inginkan, dalam kebiasaan kita mencerapi wujud entitas lain, dan jika dia mewujud sesuai keinginan kita barulah kita akui bahwa Dia ada. Ini suatu kesalahan, karena segala sesuatu termasuk Tuhan “berada” dalam suatu ruang menuruti “cara beradanya” masing-masing, kitalah yang mengamatinya berdasarkan sudut pandang dan pendekatan kita masing-masing. Intinya adalah bahwa Tuhan Ada dan setelah Dia Ada, manusia dengan kesadarannya berupaya memahamiNya, sehingga Dia Diadakan. Dia Ada sesuai dengan realitasnya dan manusia memahaminya sesuai dengan ego dan kebiasaannya masing-masing, sehingga Dia yang Diadakan bukanlah sepenuhnya Dia yang Ada. Apakah manusia dapat mengawasi Dia sesuai dengan realitasNya sendiri? Sesungguhnya manusia mampu melakukan itu, namun manusia terlanjur egois dan memaksa Tuhan “untuk berada” seperti yang manusia itu inginkan. Jika manusia ingin Tuhan “berada” sesuai dengan kebiasaannya mengamati realitas entitas yang lain, maka sesungguhnya Tuhan tidak berbeda dengan makhluk, yang hadir bukanlah Tuhan. Dan tentu saja, ide bahwa dunia dan kehidupan ini tidak bertuhan adalah ide yang paling tidak cerdas, karena jika Tuhan itu tidak ada, maka akal pikiran kita pun pada hakikatnya tidak ada.
Tuhan adalah dzat mulia, yang sedang kita wacanakan saat ini adalah ketokohanNya, eksistensiNya, bukan derajatNya yang tak tertandingi. “Ada” bagi Tuhan adalah realitasNya sendiri, namun “AdaNya” bagi kita masih merupakan hasil pemikiran kita sendiri, hasil pemikiran kita mengenai fenomena. Menurut Martin Heidegger, “Kita cenderung menafsirkan fenomena yang kita awasi, sehingga fenomena itu tidak terlihat atau tidak menampakkan diri apa adanya” (Heidegger via Hardiman, 2003:21). Fenomena yang senantiasa terjadi ditafsirkan sesuai dengan kultur berpikir kita, yang didik secara akademis, dan hanya mau menerima hal-hal yang dapat dibuktikan secara teoretis dan fisis. Kita menafsirkan suatu gejala emosi seperti rindu pada iman, sebagai suatu gejala psikologis yang termanipulasi oleh kebutuhan-kebutuhan emosi dan kita tidak mau menerima itu sebagai gejala transendental, menyembulnya aspek spiritual kita kepermukaan kesadaran kita. Karena kita didik untuk “tidak percaya” pada”hal ghaib”. Atau malah kita memisahkan alam ghaib dengan alam nyata, kita tak sadar dan tak akui bahwa ghaib dan nyata adalah berdampingan, bahkan saling mengisi. Hematnya, kita tak pernah memberikan kesempatan kepada suatu fenomena untuk hadir apa adanya, kita selalu memolesnya dengan pikiran kita, yang terbatas kemampuannya. Edmun Husserl memberikan saran kepada kita agar menjadi “pemula”, membiarkan fenomena itu nampak apa adanya, sesuai dengan kebiasaannya (Fenomenologi Husserl). Mengapa kita tidak membiarkan Tuhan hadir dan berada dalam kehidupan kita sesuai dengan kebiasaanNya, biarkan fenomena kehadiran Tuhan hadir “apa adanya”, tanpa ada spekulasi pemikiran kita sendiri, sehingga Tuhan benar-benar “Ada” sebagai realitas, temuilah Dia dalam ruang spiritual kita masing-masing.   

Trinitas

Trinitas (trinity) merupakan konsep ketuhanan dalam agama Kristen yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan mutlak, Roh Kudus sebagai kesucian tertinggi dan Yesus sebagai anak Tuhan, atau sering disebut juga Tuhan anak.
Dalam pandangan kekristenan, Yesus merupakan ide Tuhan (logos) yang telah menjadi manusia. Maksudnya adalah Yesus tercipta dari kalam Tuhan, sehingga dianggap sebagai titisan atau memiliki bawaan Tuhan. Yang dimaksud dengan logos adalah instrumen yang digunakan oleh Tuhan untuk membuat segala ciptaan menjadi ada (Armstrong, 2004:158). Jika memang demikian, maka logos atau instrumen itu (kalam Tuhan “kun”) itu secara esensial berbeda dengan Tuhan, sehingga yang tecipta dari logos tidak serta-merta berstatus Tuhan. Pemikiran Kristen bahwa Yesus itu adalah logos itu sendiri, bukan lagi tercipta dari logos, akan tetapi “firman yang telah menjadi daging”. Pemikiran ini pasti terilhami dari salah satu ayat dalam injil Yohanes ayat 1 pasal 1 sampai 18, dibawah ini hanyalah sebagiannya saja:
Firman yang telah menjadi manusia
Pada mulanya adalah firman, firman bersama-sama dengan Allah dan firman adalah Allah...., Ia telah ada di dalam dunia tetapi dunia tidak mengenalNya...., Semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya..., Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah..., Firman itu telah menjadi manusia..., ...”
Firman itulah yang disebut sebagai logos, dan keyakinan bahwa Yesus adalah logos yang telah menjadi manusia inilah yang mendorong pemahaman bahwa Yesus adalah Juru Selamat.
Berdasarkan sejarah, Ketuhanan Yesus pertama kali menjadi ideologi pada tahun 320, dimana Athanasius yang adalah asisten briliannya Aleksander berideologi bahwa Yesus adalah putra Tuhan  dan Juru Selamat bagi mereka. Pada saat itu, Athanasius berhadapan dengan seorang gerejawan yang bernama Arius. Arius tidak menyangkal “keilahian” Yesus, namun bagi Arius, Yesus bukanlah Tuhan dalam arti penuh, tidak mungkin Yesus yang adalah manusia dalam cara yang sama menjadi Tuhan yang setara dengan Allah (Armstrong, 2004:155). Bagi Arius, Yesus adalah teladan bagi manusia, dia adalah perintis jalan keselamatan. Dia telah patuh kepada Allah dan karena kepatuhannya dia hingga mati di kayu salib, sehingga derajatnya ditinggikan dan diberikan gelar “tuhan”. Namun bukan Tuhan seutuhnya seperti Allah, namun Tuhan dalam arti memiliki sifat “keilahian”, dan hal itu, menurut Arius, bisa dicapai oleh siapapun yang mau taat dan patuh kepada Allah. Jika Yesus bukan manusia, maka pupuslah harapan Kristen untuk meneladani Yesus, karena tidak ada manusia yang dapat meneladani Tuhan secara hakiki.
Athanasius pesimis terhadap kapasitas manusia di hadapan Tuhan, secara inheren manusia adalah rapuh dan jika manusia itu berdosa, maka akan kembali ke ketiadaan. Dan karena Yesus merupakan “logos Tuhan”, maka dia tidak setara dengan manusia, namun setara dengan Tuhan, dan dengan berkatNya seluruh manusia yang mengikutinya terbebas dari dosa dan tidak kembali tiada (Armstrong, 2004:159).
Ideologi ini kemudian dilengkapi oleh pihak ketiga yakni Roh Kudus, yang merealisir logos tersebut menjadi manusia. Roh Kudus atau Jibril diyakini sebagai kekuatan yang dapat mengembalikan kesucian dan atau jika merasuki seseorang maka orang tersebut akan diberkati. Mengenai Roh Kudus (Roh Suci) ini digambarkan dalam injil dapat merasuki orang-orang pilihan, diantaranya adalah dalam injil Kisah Para Rasul pasal 1, 6; Lukas pasal 1 ayat 14, dan lain-lain.
Pertarungan ideologi antara Arius dan Athanasius ini berlanjut hingga pada tahun 325 para uskup berkumpul di Nicaea untuk membicarakan hal ini. Rapat para uskup ini melahirkan doktrin bahwa “Yesus tercipta dari ketiadaan” (creatio ex nihilo), sang Pencipta dan Penebus adalah satu. Hal ini masih menjadi sumber kebingungan masyarakat Kristen, mereka masih bertanya-tanya, jika Tuhan adalah satu, bagaimana bisa logos itu juga menjadi Tuhan? Maka datanglah tiga orang teolog terkemuka asal Turki Timur, ketiga teolog ini sangat suka berspekulasi dan dasar pemikiran mereka adalah filsafat Yunani. Mereka mengembangkan formula Athanasius bahwa Tuhan memiliki satu esensi yang tidak dapat dipahami, namun tiga bentuk ekspresi yang membuatNya dapat diketahui.
Rumusan tritunggal ini pun, yang dilabeli tiga istilah ‘Bapa-Putra-Roh Kudus’, hanya merupakan simbol, karena menjelaskan realitas yang tak terucap. Ketiga ini merupakan kilasan parsial yang tak utuh dari hakikat ilahi. Tuhan menurut tiga teolog ini jauh dari pemikiran, tak terjangkau dan tak terpahami. Namun Dia membiarkan diriNya diketahui dengan aktivitasNya, seperti contoh, ekspresi senyum menandakan suasana hati dan pikiran yang tak terucapkan. Tuhan Allah mengekspresikan “adaNya” melalui aktivitasNya terhadap makhluk, agar makhluk dapat mengetahui “adaNya”. Namun aktivitas Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri, hanyalah ekspresi yang mengakibatkan Dia diketahui ada.
Setiap simbol mewakili makna, dan makna setiap simbol mutlak ditentukan oleh kesepakatan pengguna simbol tersebut (teori Semiotika). Secara simbolik, makna trinitas ditentukan oleh kaum Kristiani, namun meskipun demikian, terjadi juga kesalahpahaman antara para pengguna simbol ini. Adalah keliru jika Trinitas diartikan sebagai keterpisahan Tuhan, atau Tuhan mewujudkan diri dalam tiga persona, ini sebuah penghujatan. Keliru juga jika berpandangan bahwa ketiga persona itu merupakan aktualisasi dari Tuhan yang satu. Yang mungkin bisa diterima adalah bahwa Tuhan mengungkapkan dirinya secara penuh dan utuh dalam masing-masing dari ketiga manifestasi ini ketika Dia ingin mewahyukan diri ke dalam dunia (Armstrong, 2004:167). Seperti nafas yang mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita beserta makna-maknanya. Selanjutnya Armstrong mencontohkan bahwa filsafat dan kedokteran memang disiplin ilmu yang berbeda, tetapi keduanya tidak menempati kawasan kesadaran yang terpisah, mereka berbeda namun saling melingkupi satu sama lain, mengisi seluruh kawasan pikiran, menjadikannya utuh, namun mereka tetap berbeda.
Doktrin ini begitu paradoksal dan rumit, dan dapatkah manusia memahami Tuhan dengan rasionalisasi sedemikian rupa? Tentu saja tidak sepenuhnya benar, bahkan menurut Marx, rasionalisasi merupakan suatu proses distorsi makna-makna realitas (Fromm, 2004:27-28). Ketika seseorang berpikir untuk mengungkap makna dan memahami suatu realitas, suatu fenomena, secara tidak langsung telah mengurangi, menambahkan dan atau mengubah makna hakiki fenomena tersebut, karena pada dasarnya manusia memikirkan sesuatu selalu cenderung pada kultur berpikirnya. Di jaman kuno, kultur berpikir manusia berifat metafisis sedangkan di jaman pertengahan, kultur berpikirnya bersifat teologis dan akhirnya di jaman modern kultur berpikir manusia adalah logis dan rasional, yang dalam istilah Comte memasuki tahap positif.
Ketika makna Tuhan sebagai realitas coba dipikirkan, maka manusia yang memikirkan itu telah mendistori makna hakiki Tuhan itu sendiri, sehingga jika manusia tersebut ingin memahami Tuhan secara substansial, maka berpikir bukan jalan yangg dianjurkan. Bersesuaian dengan ini, Aristoteles pernah berteori bahwa manusia mendatangi persoalan agama (termasuk mengenai eksistensi Tuhan) bukan untuk mempelajari (mathein), melainkan untuk mengalami (pathein). Pertanyaannya adalah mungkinkah manusia mengalami Tuhan? Jika realitas Tuhan hanya dapat dipahami dengan mengalaminya, maka jawabannya tentu saja “YA”. Seperti air laut yang bisa dipahami dengan cara mencicipinya, pikiran tidak dapat menjelaskan air laut, hanya dapat dijelaskan oleh apa yang dirasakan di lidah, seperti Tuhan yang tak dapat dipikirkan karena tidak terjangkau oleh rasio, dan hanya dapat diterima secara mistis. Sesuai dengan konklusi yang diajukan oleh Armstrong “Pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami sebagai sebuah pengalaman mistik atau spiritual; ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh diluar konsep manusia. Ia bukanlah sebuah rumusan logis atau intelektual” (Armstrong, 2004:167-168).   

Trimurti

Trimurti adalah konsep ketuhanan yang dianut oleh kaum Hindu. Berdasarkan arti katanya, Trimurti berarti “memiliki tiga bentuk”. Trimurti adalah penggambaran tiga dewa yang diyakini sebagai pencipta, penguasa, penjaga dan penghancur semesta. Ketiga dewa ini adalah Brahma, Siwa dan Wisnu.
Brahma diyakini sebagai The Supreme Being, “Ada yang Tertinggi”. Brahma adalah dewa yang menciptakan alam semesta. Namun agak bergeser dari makna pencipta bagi doktrin lain, Allah menciptakan alam sebagai “Allah sang Pencipta”, dan kelak menghancurkan semesta sebagai “Allah sang Pengakhir”. Meskipun berbeda dalam perilaku, namun satu dalam pelaku.
Brahma menciptakan dunia sebagai Brahma, dia adalah tuhan, namun ketika dia menjaga semesta, maka dewa atau tuhan yang melakukannya bukan Brahma, namun Wisnu, dan ketika menghancurkan semesta maka dia adalah Siwa. Sehingga Trimurti adalah “tiga kepribadian atau tiga persona dalam satu status tuhan”. Flood menyebutkan bahwa Siwa adalah dewa yang bersifat oposisi, meskipun Siwa disebut juga sebagai “The Desotroyer”, namun dalam riwayat lain Siwa juga disebut “Sang Penyuci”, maksudnya adalah nama Siwa digunakan untuk menyucikan orang yang meyakininya. Sementara Wisnu disebut sebagai dewa yang mengatur dan menjaga semesta. Wisnu juga diartikan sebagai berikut Wis=mengatasi Nu=meliputi segala sesuatu. Sehingga Wisnu dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai dewa yang mengatasi persoalan dunia dan manusia serta meliputi segala sesuatu.
Berdasarkan budaya Hindu dalam memahami Dewa mereka diatas maka dapat disimpulkan bahwa Trimurti atau Tiga Dewa (Brahma, Siwa dan Wisnu) adalah persona-persona yang berstatus Tuhan dengan fungsi yang berbeda-beda. Hindu meyakini tuhan-tuhan mereka memiliki fungsi dan aktivitas yang berbeda-beda, dan mereka mengenal Dewa atau Tuhan mereka berdasarkan fungsi mereka. Sehingga setiap fenomena alamiah dapat disimpulkan oleh mereka sebaga suatu ekspresi keberadaan Tuhan mereka. Aktifitas Tuhan yang berimbas pada semesta merupakan indikator bahwa Tuhan sedang berada atau terlibat dalam kehidupan mereka.
Seorang penyair bernama John Stuart Blackie pernah menulis dua buah puisi dengan Judul “All Things are Full of God” dan “Trimurti”. Kedua puisinya ini menggambarkan betapa Blackie sangat yakin bahwa Tuhan merupakan entitas yang menyanggah segala eksistensi. Baik dalam puisi pertamanya maupun puisi kedua memiliki ide pokok yang sama, yakni Tuhan ada dibalik segala sesuatu.
Demikian puisinya:
ALL THINGS ARE FULL OF GOD
By: John Stuart Blackie (1809-1895)
All things are full of God. Thus spoke
Wise Thales in the days
When subtle Greece to thought awoke
And soared in lofty ways.
And now what wisdom have we more?
No sage divining-rod
Hath taught than this a deeper lore,
All things are full of god.  
The Light that gloweth in the sky
And shimmers in the sea,
That quivers in the painted fly
And gems the pictured lea,
The million hues of Heaven above
And Earth below are one,
And every lightful eye doth love
The primal light, the Sun.
 
Even so, all vital virtue flows
From life’s first fountain, God;
And he who feels, and he who knows,
Doth feel and know from God.
As fishes swim in briny sea,
As fowl do float in air,
From Thy embrace we cannot flee;
We breathe, and Thou art there.
 
Go, take thy glass, astronomer,
And all the girth survey
Of sphere harmonious linked to sphere,
In endless bright array.
All that far-reaching Science there
Can measure with her rod,
All powers, all laws, are but the fair
Embodied thoughts of God.

TRIMURTI
By: John Stuart Blackie (1809-1895)
Trimurti, Trimurti,
Despise not the name;
Think and know
Before thou blame!
Look upon the face of Nature
In the flush of June;
BRAHMA is the great Creator,
Life is Brahma’s boon.
Dost thou hear the zephyr blowing?
That is Brahma’s breath,
Vital breath, live virtue showing
’Neath the ribs of death.
Dost thou see the fountain flowing?
That is Brahma’s blood,
Lucid blood--the same is glowing
In the purpling bud.
Brahma’s Eyes look forth divining
From the welkin’s brow,
Full bright eyes--the same are shining
In the sacred cow.
Air, and Fire, and running River,
And the procreant clod,
Are but faces changing ever
Of one changeless God.
When thy wingèd thought ascendeth
Where high thoughts are free,
This is Brahma when he lendeth
Half the God to thee.
Brahma is the great Creator,
Life a mystic drama;
Heaven, and Earth, and living Nature
Are but masks of Brahma
Puisi merupakan ekspresi seseorang yang paling pribadi. Bahasa yang digunakan sangat simbolis dan semiotis. Makna puisi tersirat dalam majas-majas yang digunakan oleh penulis puisi tersebut. Dalam dua puisi diatas, Blackie, terutama dalam puisi pertamanya, dia berkeyakinan bahwa Tuhan memenuhi segala sesuatu. Makna memenuhi disini dapat dikatakan “Ada sebelum, beserta dan sesudah” sesuatu itu. Sehingga sesuatu itu seolah dipenuhi oleh Tuhan.
Blackie menggunakan kalimat “We breath and thou art there”, serta “All powers, all laws, are but the fair. Embodied thoughts of God”. Menandakan bahwa Blackie merasakan Tuhan hadir dalam dirinya dan segala kekuatan serta hukum merupakan organisasi perencanaan Tuhan.
Segala hal seakan tidak bergerak dan tidak diam tanpa Tuhan. Dalam pandangannya ini, Blackie manganggap Tuhan “Maha Merasa” dan “Maha Mengetahui”, tak ada celah bagi kealpaan Tuhan berada. Blackie menggambarkan kesempuraan Tuhan, namun perlu diingat bahwa Blackie memahami Tuhan berdasarkan perbuatan Tuhan, bukan karena penampakan Tuhan, yang tidak terucapkan itu.
Keyakinannya ini menguat dalam puisi berikutnya, yaitu Trimurti. Satu hal yang terlihat ganjil dan kurang memuaskan adalah perwakilan identitas Tuhan yang digunakan oleh Blackie untuk menggambarkan pandangannya terhadap Tuhan dan PerbuatanNya. Sebagai seorang Kristiani, Blackie telah menggunakan atribut ketuhanan Hindu untuk mengekspresikan pemahamannya mengenai Tuhan. Kelihatannya Blackie memang memandang Tuhan adalah tokoh yang memiliki banyak nama, baik Hindu, Budha, Kristen maupun Islam menyebut Tuhan yang satu dengan sebutan yang banyak. Namun jika menyangkut dengan egoisme akidah, sepertinya hal ini harus dihindari.
Mengapa harus dihindari, karena akan merusak keimanan masing-masing. Blackie mencoba untuk menjelaskan Tuhan dan semesta dalam pandangan kehinduan. Jika Blackie menganggap bahwa Tuhan Kristen dan Tuhan Hindu adalah berbeda, maka rusaklah keimanan Blakie. Rasa ketidakpercayaan dan keterpaksaan saling berintegrasi dan lahirlah suatu paradigma bahwa Tuhan ini adalah dogma yang penuh dengan kebohongan. Namun jika Blackie beranggapan bahwa Tuhan hanyalah Tuhan yang satu, namun ideologi dan konsepsi ketuhanan saja yang bervariasi, maka sesungguhnya Blackie telah melakukan suatu hal yang sangat bijaksana. Betapa tidak? Dengan adanya perbuatan ini maka hati seluruh pemeluk agama akan disatukan dalam kedamaian dan dapat mencegah terjadinya bentrok dengan isu religi.
Lihatlah, Blackie menulis bahwa kehidupan ini adalah hadiah dari Brahma, air terjun adalah darah Brahma, bahkan langit dan bumi merupakan topeng-topeng dari Brahma. Dengan kata lain, alam semesta adalah penampakan-penampakan Brahma dalam bentuk yang lain, atau Brahma telah mewujudkan diri sebagai, sebelum, beserta dan sesudah semesta.
Personifikasi yang digunakan oleh Blackie ini sangat berhubungan dengan doktrin Trinitas mengenai Allah mewahyukan diri ke dalam dunia melalui Yesus. Dimana Allah ingin diketahui, maka Dia melakukan hal yang menyebabkan Dia dicurigai, dicari dan diketahui “ADA”.
Dalam Trimurti, Blackie menyebut Brahma sebagai The Great Creator, Pencipta yang Agung. Dalam Trimurti terdapat tiga persona, namun dalam puisi ini, Blackie menyebut Brahma saja, bahkan Blackie menggunakan kalimat “Of one changeless God”, seolah-olah Brahma telah menenggelamkan citra dewa yang lain, yaitu Siwa dan Wisnu. Namun terlepas dari itu, umat Hindu sangat berpegang teguh kepada keyakinan mereka, seperti kita berpegang terhadap keyakinan kita.

Allah Islam Yang Maha Esa

Ummat Islam meyakini bahwa Tuhan senantiasa mengawasi dan mengatur segala sesuatu. Ketuhanan dalam Islam adalah ketuhanan tunggal, dan tak terbagikan. Dasar utamanya adalah dalam Alqur’an surat Al-Ikhlas ayat 1 “Katakanlah bahwa Allah Maha Esa”. Dasar ini diyakini ummat Islam sebagai Ajaran Tuhan kepada Muhammad, dimana Tuhan memperkenalkan diriNya kepada Muhammad sebagai satu-satunya Tuhan. Pernyataan ini menguat ketika Islam berpegang pada doktrin “La ilaha illallah”, Tiada Tuhan selain Allah.
Seluruh agama samawi terutama Kristen dan Islam menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan. Pada awalnya, Tuhan dikenal dengan sebutan El (bahasa Aram). Hingga “perang antar tuhan” terjadi, Yahudi memperkenalkan Tuhan mereka “Yahweh”. Namun El, berkembang menjadi Elah, Elohim dan akhirnya Allah. Yesus menyebut Tuhan dengan sebutan Eli. Dalam pandangan ini, pada dasarnya Tuhan yang satu telah dikonsepkan sedemikian rupa, diperangkan dan akhirnya seperti pertarungan catur, manusia dan ideologi ketuhanannya berperang dan mempertahankan ideologinya atas nama Tuhan yang dia yakini.
Begitu juga Nabi Muhammad SAW yang datang untuk membumihanguskan pemberhalaan Uzza, Latta dan Manatta. Nabi Muhammad SAW datang untuk menggenapkan ajaran Yesus, karena ajaran Yesus telah mengalami perubahan-perubahan yang cukup berpengaruh pada kesucian ayat-ayat Tuhan (Al Qur’an surat Al-baqarah ayat 75).
Penuhanan terhadap Yesus merupakan pangkal diturunkannya ALQur’an. Dalam surat Alikhlas “Katakanlah bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Namun nabi Muhammad SAW bukanlah seorang yang memahami ideologi Kristen, meskipun kerabatnya Waraqah adalah beragama Kristen. Tidak mungkin seorang yang buta huruf seperti beliau berhasil secara gemilang menyatukan suku-suku yang pada masa itu (jahiliyah) menganut sistem nyawa bayar nyawa dan terkurung dalam lingkaran kekerasan yang berkepanjangan. Keberhasilan Islam di masa dimana warga Arab pada saat itu dicap label bodoh, barbar dan tidak beruntung karena tidak memperoleh wahyu dari Tuhan, oleh para pedagang yang menganut agama Kristen dan Yahudi. Muhammad SAW yang sebelum menjadi nabi, dan bahkan dia tidak pernah berpikir akan menjadi seorang nabi, adalah seorang dermawan yang suka bersunyi diri di Gua Hira, dia sangat mementingkan masyarakat Arab yang sudah mengalami keruntuhan moral dan sudah berindikasi akan menjadikan uang dan kekerasan sebagai agama.
Kehidupan masyarakat Arab pada saat itu dan sebelumnya telah menyembah dewa-dewa pagan yang berhalanya diletakkan dalam Ka’bah, yang berada tepat di jantung kota Makkah. Namun para penyembah berhala itu tidak memiliki persepsi mengenai kehidupan setelah mati, mereka hanya memahami bahwa ada yang mengatur takdir mereka.
Wahyu pertama pun turun kepada Muhammad pada tahun 610 di gua Hira, tempat dimana nabi Muhammad SAW terbiasa bersunyi diri. Jangan mengira bahwa dia mengetahui bahwa yang dia alami adalah pewahyuan Tuhan, karena setelah pertama kali dia mengalaminya, dia bertanya kepada istrinya Khadijah bahwa apakah dia sudah gila (majnun), namun Khadijah menegaskan bahwa dia adalah orang yang sangat baik, dermawan dan sosialis. Tak puas dengan itu, Muhammad bertanya kepada sepupunya yang bernama Waraqah yang pada saat itu telah memahami dan memeluk Kristen. Tanpa ragu Waraqah berkesimpulan bahwa Muhammad telah menerima wahyu dari Tuhan Musa, Isa dan nabi yang lain; bahwa dia adalah utusan ilahi (Armstrong, 2004:194).
Ketidaktahuan Muhammad SAW dan kebutaannya mengenai apa yang tengah dialaminya merupakan bukti bahwa Tuhan berhak menentukan siapakah yang menjadi utusannya, tentunya dengan kriteria tertentu. Namun pengalaman ini mengajarkan kepada kita bahwa AlQur’an bukanlah ciptaan manusia, bahwa wahyu benar-benar diturunkan oleh Allah dan bahwa Tuhan itu bersifat Ada.
Inti ajaran pewahyuan pada Muhammad SAW (AlQur’an) adalah “Mengesakan Allah”. Meskipun mayoritas ayat-ayat AlQur’an menjelaskan mengenai hubungan horisontal antar-manusia, namun segala imbas ajaran Islam dalam AlQur’an adalah mengesakan Tuhan.
AlQur’an berisi Hukum, Kisah, Kabar Gembira dan Peringatan. Hukum mengatur hubungan horisontal antar-manusia dengan manusia dan alam dan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, serta hukum perbuatan yang menetapkan tapal batas haram dan halal; Kisah berisikan pemeran dan momentum penting yang menjadi landasan bagi Muhammad SAW menginterpretasi ajaran dan nasib kaum-kaum terdahulu beserta nabi mereka, Kabar Gembira dan Peringatan menjelaskan buah perbuatan dan peribadatan, yakni mengenai kenikmatan sorga dan siksa neraka.
Kendatipun doktrin AlQur’an berporos pada tauhid atau pengesaan Tuhan, namun ayat-ayat yang menyeru pada pengesaan itu seringkali terbatas pada perintah saja, sehingga pengenalan terhadap realitas ketuhanan itu masih terselimuti misteri, artinya bahwa sesempurna apapun AlQur’an, dia tidak menjelaskan bagaimana agar dapat memahami Tuhan secara logis (mathein).
Ajaran pentauhidan ini mengakar pada rukun pertama untuk menjadi seorang muslim, yakni persaksian bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah; dan guna legalitas keislamannya lebih terjamin maka disempurnakan Muhammad adalah Utusan Allah, suatu aprofal atau pengakuan atas kebenaran Muhammad sebagai penerima wahyu.
Agama Islam yang diturunkan kepada Muhammad SAW tidak bertujuan untuk membatalkan ajaran agama terdahulu, melainkan menegaskan kesinambungan ajaran Tuhan (Armstrong, 2004:211), artinya bahwa agama yang satu diturunkan untuk menyambung, menyempurnakan dan memurnikan kembali ajaran yang terdahulu, yang mungkin telah terkontaminasi dengan ideologi pagan atau syirik.  Hal ini memberikan gambaran bahwa Tuhan senantiasa memonitor tindakan manusia hingga pemikiran dan benaknya pun terbaca oleh Tuhan, lalu dimanakah Dia?
Dalam Islam, ada salah satu hadist qudsi yang terkenal yang berbunyi “Sesungguhnya Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk untuk mengenalKu”. Hadist qudsi ini menjelaskan kepada kita bahwa Tuhan telah berada sediakala, dia menciptakan makhluk (manusia) dan memberikan tanda-tanda agar manusia mengetahuiNya ada. Namun mengenal bukan hanya memahami, apakah Tuhan dapat dikenal secara hakiki? AlQur’an “tidak memberikan” jawabannya secara langsung, namun salah satu cabang disiplin ubudiyah dalam Islam mencoba untuk menjawab itu, yakni dengan Tasawuf. Suatu upaya penetrasi ke kedalaman ruang spiritual yang sebenarnya juga terdapat dalam ajaran agama lain dan dikenal dengan praktik mistisisme.
Persoalan “mengenal Tuhan” dalam Islam termasuk wacana berat yang diperbincangkan oleh kalangan para wali. Dan meskipun ajaran agama lain juga menyertakan apa yang Aristoteles sebut pathein, namun sejarah membuktikan bahwa Muhammad SAW dan AlQur’an adalah risalah asli asal Tuhan yang terakhir, dan yang datang setelah Muhammad SAW selalu dapat dibuktikan sebagai nabi palsu; sehingga dapat dipastikan bahwa Islam adalah agama yang menyempurnakan Yahudi, Hanif dan Nasrani atau Kristen, sehingga pula dapat disimpulkan bahwa “KINI” Islam satu-satunya agama yang direkomendasikan oleh Tuhan kepada alam semesta beserta isinya.
Thrupp menggambarkan bahwa pimpinan spiritual dan pemberontakan Taiping, Hung Hsiu Chuan pernah mendeklarasikan kenabiannya pada pengikutnya “Aku telah berhadapan dengan Tuhan dan menerima perintahnya yang penting, kehendak sorga dibebankan ke pundakku, walaupun oleh karena itu aku akan menghadapi bencana, kesukaran dan penderitaan, aku akan beraksi” (Thrupp, 1984:115). Selain Hung Shiu Chuan, masih ada Mirza Ghulam Ahmad, nabinya Ahmadiah, namun mereka tidak dapat membuktikan kenabiannya. Ahmadiah berupaya menciptakan suatu kitab yang disebut Tadzkirah, namun belakangan diketahui “hasil pembajakan AlQur’an”, kemudian di negara kita ada Lia Eden dan Agus Imam Solihin dengan ajaran Satria Pininggit. Sebuah bukti bahwa Tuhan tidak akan menurunkan lagi nabi baru, spirit kenabian Muhammad SAW telah mewakili spirit nabi-nabi sebelumnya, dan telah diwariskan kepada para Waliyullah dan Imam.

Islam memandang Keinsanian Yesus

Agama terdekat sebelum Islam adalah Kristen, yang memaklumi Yesus sebagai anak Tuhan dan AlQur’an menghapus pemahaman ini dengan beberapa ayat AlQur’an (yang dianggap merupakan plagiarisme dari Injil dan penghujatan) yang menerangkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Tunggal. Pluralisme ketuhanan dilarang dalam Islam. Islam berinti pada ajaran singularisme ketuhanan. Allah seolah-olah tidak setuju dengan maklumat Kristen yang menafsirkan kata “Anak Tuhan” dalam Injil sebagai “Putra Tuhan” secara generatif. Wahyu atau logos dapat diidentikkan dengan ‘idea’, Yesus dilahirkan secara unik dan dipahami sebagai idea Tuhan yang terealisir sedemikian rupa, sebagai suatu perwujudan Tuhan kepada manusia. Namun ingatlah bahwa dalam Kitab Kejadian, Adam diciptakan bukan hanya tanpa ayah seperti Yesus, namun juga tanpa ibu. Namun anehnya sampai saat ini, respek terhadap Adam tidak lebih dari sekedar “manusia pertama yang bersalah”, tidak pernah ada upaya untuk merumuskan bahwa Adam adalah putra Tuhan.
Islam memandang bahwa hanya ada satu Tuhan yang boleh diakui, yaitu Allah. Sebutan Tuhan hanya untuk Allah. Pengkultusan terhadap Yesus dipandang menyesatkan. Sebenarnya tidak secara keseluruhan umat Kristiani menganggap Yesus sebagai Tuhan, keinsaniannya banyak tergambar oleh Kristiani dalam berbagai karya seni. Misalnya dalam puisi-puisi Conrad Potter Aiken, yang meskipun adalah seorang Kristiani, menggambarkan keinsanian Yesus, tersentuh oleh kematian dan sebagainya.

MIRACLES
By: Conrad Aiken (1889-1973)
Twilight is spacious; near things in it seem far,
And distant things seem near.
Now in the green west hangs a yellow star.
And now across old waters you may hear
The profound gloom of bells among still trees,
Like a rolling of huge boulders beneath seas.
 
Silent as though in evening contemplation
Weaves the bat under the gathering stars.
Silent as dew, we seek new incarnation,
Meditate new avatars.
In a clear dusk like this
Mary climbed up the hill to seek her son,
To lower him down from the cross, and kiss
The mauve wounds, every one.

Men with wings
In the dusk walked softly after her.
She did not see them, but may have felt
The winnowed air around her stir;
She did not see them, but may have known
Why her son's body was light as a little stone.
She may have guessed that other hands were there
Moving the watchful air.
 
Now, unless persuaded by searching music
Which suddenly opens the portals of the mind,
We guess no angels,
And are contented to be blind.
Let us blow silver horns in the twilight,
And lift our hearts to the yellow star in the green,
To find perhaps, if, while the dew is rising,
Clear things may not be seen

Music I Heard
By: Conrad Potter Aiken (1889-1973)
Music I heard with you was more than music,
And bread I broke with you was more than bread;
Now that I am without you, all is desolate;
All that was once so beautiful is dead.

Your hands once touched this table and this silver,
And I have seen your fingers hold this glass.
These things do not remember you, beloved,
And yet your touch upon them will not pass.

For it was in my heart that you moved among them,
And blessed them with your hands and with your eyes;
And in my heart they will remember always,
They knew you once, O beautiful and wise.
Puisi pertamanya diatas (Miracles) tak ubahnya suatu drama yang menceritakan kematian Yesus di tiang salib. Puisi ini selain menjelaskan realitas (Lukas 23), yesus dibawa dan disalibkan, disaksikan oleh ibunya Maria, kemudian penggunaan frase To lower him down from the cross, and kiss; The mauve wounds, every one untuk menggambarkan “keinsanian Yesus” yang masih tersentuh oleh duka nestapa.
Jika memang Yesus adalah titisan sebagaimana yang Aiken gambarkan lewat penggunaan frase silent as a dew, we seek new incarnation, meditate new avatars yang tidak lain menyeru bahwa Yesus adalah “titisan tuhan”, maka Yesus tentu saja tidak layak mendapatkan dera dan duka sebagaimana yang tergambar dalam Injil Lukas pasal 23 dan dalam puisi yang paradoksal ini.
Aiken justru menggambarkan secara jelas “kenabian Yesus” yang aslinya bernama Yoshua itu. Kenabian Yesus menguat dengan penghadiran tokoh malaikat yang datang menjemput nyawa Yesus, digambarkan oleh Aiken dengan kalimat Men with wings, in the dusk walked softly after her. Yang dimaksud dengan Her disini adala ibunya. Para malaikat berjalan dengan lembut dibelakangnya, untuk menjemput nyawa Yesus yang tubuhnya telah diturunkan oleh ibunya dari tiang salib.
Kemudian dalam puisi keduanya, Aiken menuliskan kisah perjamuan dengan murid-muridnya, dimana Yesus dikhianati oleh Yudas. Kalimat kunci yang mencoba untuk memberikan makna “tuhan” kepada Yesus adalah penggambaran bahwa Yesus mampu memberikat berkat kepada manusia lain, yang mana berkat (blessing) itu hanya dapat diberikan oleh Tuhan. Hal ini terlukis lewat penggunaan kalimat And blessed them with your hands and with your eyes.
Bagaimana mengenai Yesus dalam Islam? Tentu saja tidak diragukan jika politheisme seperti doktrin Triitas akan ditolak dan dianggap penghujatan terhadap Allah; karena inti ajaran Islam adalah “Pengesaan Tuhan”. Yesus, menurut Suntani, adalah manusia biasa yang hidup dan dikaruniai predikat rasul dan akhirnya meninggal karena disalib (seluruh nabi hidup dalam tekanan, karena berupaya menyebarkan agama terhadap masyarakat yang mayoritas bersikap barbar dan sebagiannya lagi tengah menyembah dewa-dewa pagan). Bahkan kubur Yesus kini berada di Kashmir, India. Dan bahkan diyakini bahwa ajaran Kristen asli hanya dapat ditemukan di India saja (Suntani, 2001:82).
Di dalam Islam, Yesus atau disebut oleh Isa telah diagungkan oleh Allah sebagai rasulNya, dan ditekankan oleh Allah bahwa Yesus bukanlah titisan Tuhan yang layak mendapatkan predikat putra tuhan. Ibu Yesus, Maria, juga diagungkan oleh Allah sebagai wanita pilihan, hingga ada salah satu nama surah dalam AlQur’an yang menggunakan nama Maryam, untuk mengagungkan ibu Yesus.
Dalam AlQuran surat Maryam (surat ke 19) ayat 19-21 menggambarkan bahwa Allah mengirimkan ruhNya, untuk menemui Maryam dan mengatakan bahwa dia akan diberi seorang anak suci. Maryam kemudian mengkritik ruh tersebut dan berkata bahwa dia bukan seorang wanita jahat dan tidak ada laki-laki yang menyentuhnya. Ruh tersebut kemudian mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman bahwa hal itu mudah bagiNya, dan apa yang telah Dia lakukan merupakan tanda kekuasaanNya.
AlQur’an menggunakan kata “ruhNya” untuk menggambarkan siapa yang mendatangi Maryam atau Maria. Ruh yang dimaksudkan disini adalah Jibril, malaikat yang diidentifikasi sebagai juru bicara Allah. Perkataan RuhNya atau dalam translasi lain Ruh Kami memaksudkan pesuruh Allah yang tidak memiliki wujud materi, yakni malaikat. Bukan Allah sendiri, melainkan pesuruh Allah, sehingga sangat jelas terlihat keorganisasian kerja Tuhan dalam mengatur hubungannya dengan manusia, dari balik realitas ini.
Pada ayat ke 30 surat Maryam ini, Yesus berkata bahwa “Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah, diberikanNya kepadaku Alkitab (Injil) dan dijadikanNya aku seorang nabi”. Sambungannya pada ayat 31, “dan dijadikanNya aku orang yang diberkati...”, jika Yesus saja membutuhkan berkat agar dapat berguna bagi ummatnya, maka bagaimana bisa dia mampu memberi berkat.
Seolah-olah Allah memonitori segala peristiwa, dengan rentang waktu antara masa Yesus dan Masa Muhammad yang begitu lama, tetapi sampailah kepada Muhammad apa yang dilakukan oleh ummat Yesus setelah Yesus kembali kerahmatullah. Masih dalam surat yang sama, ayat 89-93, Allah menunjukkan kemarahanNya atas pengangkatan Yesus sebagai anakNya. “Sesungguhnya kamu telah datang dengan suatu yang ingkar besar; hampir langit pecah karenanya dan bumi belah dan gunung-gunung pecah belah; oleh karena mereka mengatakan Yang Maha Pengasih mempunyai anak; tiada patut Yang Maha Pengasih mempunyai anak; tak ada tiap-tiap di langit dan di bumi  datang kepada Yang Maha Pengasih menjadi hambaNya”. Alusi atau kiasan yang Allah gunakan (langit pecah, bumi belah dan gunung pecah-belah) menggambarkan betapa laknatnya perbuatan itu sehingga alam pun marah. Ayat tersebut juga sama sekali tidak mengangkat derajat Muhammad SAW, karena bagi Allah segala yang ada di langit dan di bumi datang kepadaNya sebagai hamba, termasuk Muhamad dan Yesus, sebagai bukti bahwa AlQur’an terbebas dari subjektifitas Muhammad.
Nabi Ibrahim (Abraham) yang belakangan diketahui memeluk monoteisme, percaya pada Tuhan Yang Esa, yang agamanya diketahui bernama Hanif, dikisahkan dalam AlQur’an pada surat AlHajj (surat ke 22) ayat 26 “(Ingatlah) ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Bait (Ka’bah), (firman Kami): Janganlah engkau persekutukan Aku dengan suatu juapun dan bersihkanlah rumahKu untuk oang-orang yang mengelilinginya (thawaf) dan orang-orang yang berdiri, ruku’ lagi sujud”, ayat ini menegaskan bahwa Ibrahim pun ditekankan untuk tidak menyekutukan Allah, mengesakan Dia, bagaimana bisa keturunannya merubah konsepsi ketuhanan yang 3 in 1? Kemudian perintah membersihkan Ka’bah bagi orang-orang yang berdiri, ruku dan sujud akhirnya diidentifikasikan sebagai ibadah shalatnya ummat muslim. Sehingga jika memang demikian, maka nabi Ibrahim pada awalnya sudah menerima Islam, dan ibadahnya, namun nama dan istilah yang digunakan saja yang mungkin berbeda, termasuk juga keturunannya, Musa, Isa atau Yesus dan Muhammad, merupakan suatu ketersinambungan ajaran Tuhan yang satu.

Penetrasi Ruang Spiritual

Baik Ibrahim, Musa, Yesus dan Muhammad, membawakan ajaran mengenai tatakrama hidup dan mati, membawakan risalah mengenai penyembahan terhadap Allah yang satu tanpa tawar menawar lagi. Lalu apakah Allah selamanya merupakan bayang-bayang misterius yang beraktifitas dibalik layar realitas ini? Apakah manusia hanya diberikan izin untuk mengetahui bahwa Dia ada, namun tidak diizinkan untuk bertemu denganNya?
Tentu saja Allah tidak mungkin melakukan hal itu, karena itu adalah salah satu bentuk ketidakadilan yang jauh dari sifat Tuhan. Seluruh manusia tentu dapat memahamiNya, mengenalNya dan bahkan melihatNya dan tak perlu menanti hingga mati. Selama manusia tersebut berada pada rel yang ditentukan.
Sebagaimana yang telah kita bahas bersama, bahwa realitas tuhan itu tak terjangkau oleh logika, dan tuhan itu tidak dapat dipelajari (mathein), namun dialami (pathein). Sebagaimana juga kita ketahui sebelumnya bahwa Trinitas ternyata hanya dapat dipahami lewat pengamalan mistis, begitu juga apa yang dialami oleh Muhammad SAW ketika dia menerima wahyu Tuhan, suatu fenomena spiritual yang membungkam akal, tak ternalarkan, namun dapat terbuktikan dalam tiap pribadi yang memang bersungguh-sungguh mau bertemu dengan Tuhan di ruang yang sudah dipersiapkan, yaitu ruang spiritual.
Tujuan agama Kristen, dan mungkin seluruh agama samawiyah (agama wahyu) adalah untuk membangkitkan kegelisahan spiritual (Thrupp, 1984:118). Ini artinya bahwa agama Allah diturunkan guna membasahi kegersangan spiritualitas manusia, menumbuhkan dan menyuburkan kebutuhan suplemen bathin, membuat manusia senantiasa merasa haus kepada Tuhan. Namun ternyata sebuah kesalahan besar, para pencari Tuhan yangg notabenenya para orientalis barat mencoba menghapus ketakterpuasan spiritual dengan pencarian intelektual. Seperti memancing ikan di hutan. Karena ketidakmampuan dan kesalahjalanan mereka dalam melakukan pencarian Tuhan, yang dikira dapat dijangkau secara materil, maka mereka tersesat dan menuduh bahwa agama hanyalah mitos, padahal mereka membuktikan kebenaran agama tidak pada jalannya, sehingga agama dianggap candu masyarakat bagi Emile Durkheim, kemudian Marxisme memandang agama sebagai suatu ilusi yang bergerak mengelilingi manusia, sepanjang manusia tidak mengitari dirinya sendiri (Fromm, 2004:287).
Yang harus manusia lakukan agar dapat mengalami Tuhan adalah dengan memasuki ruang spiritual. Apakah ruang spiritual itu? Ruang spiritual adalah ruang kontemplasi, menduduki posisi lebih dalam dari pikiran dan hati, hanya bisa dicapai lewat perenungan dan meditasi. Ruang spiritual mungkin dapat diartikan sebagai alam bawah sadar, namun metodologi penetrasi ruang spiritual ini berbeda dengan yang dibicarakan oleh hipnotisme, mengenai alam bawah sadar.
Pertama-tama, manusia harus membentuk suatu paradigma berpikir bahwa dunia ini bersifat fana, termasuk diri sendiri. Secara harafiah, fana berarti lebur, musnah atau raib. Dunia fana artinya dunia yang tidak kekal. Kesadaran ini secara simultan membentuk kesadaran bahwa ada dunia atau ruang dibalik realitas yang bersifat abadi. Dalam bahasa teologisnya “harus meyakini eksistensi alam gaib” terlebih dahulu. Dengan kata lain, sebelum mencicipi kebenaran agama, manusia harus meyakininya terlebih dahulu. Tuhan tidak dapat ditemukan jika persepsi mengenai Dia sudah ditolak, dan bersikap tidak percaya sebelum menemukanNya. Ini suatu kesombongan yang luar biasa, sangat sombong walaupun tidak dapat menjawab dari mana dia berasal, sedang berada dimana dia kini dan akan kemana dia nanti. Kesombongan inilah yang memotivasi logika untuk mengalahkan iman, dan akhirnya tersesat.
Muhammad SAW pernah berkata bahwa “Barang siapa yang rindu bertemu dengan Tuhan maka Tuhanpun rindu bertemu dengannya” (Riwayat Muslim) (Ya’qub, 1992:193). Kita sudah sepakat bahwa Ibrahim, Musa, Yesus dan Muhammad membawa risalah yang sama, untuk memerangi tuhan-tuhan pagan, dan Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang menggenapkan ajaran Yesus, sebagaimana Yesus menggenapi ajaran Musa; dan Muhammad SAW-lah yang ditunjuk sebagai nabi terakhir, sekaligus menjelaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang direkomendasikan Allah kepada manusia, maka ajarannya-lah yang “KINI” harus diaplikasikan, termasuk untuk bertemu dengan Tuhan Allah sebelum mati. Tentu saja langkah awalnya, kita harus mengesakan Dia, kemudian meyakini Dia dan merindukan Dia.
Sejenak saya akan mengajak anda untuk mengkritisi Martin Heidegger, sekaligus menyalutinya, dia beranggapan bahwa kita ada di dalam dunia (in der welt sein) terlempar begitu saja. Ini adalah suatu penghapusan Tuhan, dia tidak memahami asal usul keberadaannya, dia tidak mau mematuhi ajaran agama dan menolak iman sebagai landasan. Anehnya dia mencontohkan “seperti buah dadu yang dilemparkan diatas meja begitu saja” (Abidin, 2006:177), tentu saja buah dadu itu “Ada yang melemparkannya”. Jangankan ada yang melemparkanya, buah dadu itu ada yang membuatnya, kemudian ada fungsinya dan dilemparkan di atas meja judi ada tujuannya juga. Dia juga mengatakan bahwa manusia senantiasa berada dalam proses menjadi (Hardiman, 2003:69), memang benar dan segala sesuatu senantiasa berada dalam proses menjadi, namun tidak menjadi sesuatu. Manusia senantiasa mengalami proses, berkembang dan menghancur, baik dari segi fisik, maupun dari segi mental. Karena proses menghancur ini begitu pelan dan terkesan semu, maka manusia tidak memperdulikannya. Namun ketika dalam kondisi hati tertentu, dan terutama cemas, disitulah, menurut Heidegger, manusia kembali merenungi dirinya, keberadaannya di dunia dan menuju kematian. Manusia merasa cemas karena memikirkan kebebasannya yang terenggut; kebebasannya untuk hidup, kebebasannya untuk bahagia, sehingga kecemasan itu berjasa dalam menyingkapkan bahwa kita Ada. Namun cara menyikapi keberadaan kita ini berbeda, antara Heidegger dan Kierkegaard misalnya, Kierkegaard mengatasi kecemasan ini dengan melompat ke dalam iman (Hardiman, 2003:78).
Disini ada persamaan antara kecemasan (angst) menurut Heidegger dan kegelisahan menurut Thrupp. Agama diturunkan untuk menghadirkan kegelisahan spiritual, dan Heidegger bermaskud bahwa kecemasan itulah menyebabkan kita sadar bahwa kita ada. Segaris dengan ini, dapat dikatakan bahwa agama mengajarkan bahwa kita Ada, dan jika kita Ada berarti Tuhan pun ada. Kerinduan yang dikatakan Muhammad beberapa belas abad yang lalu, termasuk juga ke dalam bagian Kecemasan dan Kegelisahan ini, bukankah seseorang yang merindu akan merasa gelisah? Kerinduan terhadap Tuhan menghadirkan kegelisahan dan kecemasan, kita cemas tidak bertemu denganNya, kita gelisah dan takut kehilanganNya dan kecemasan dan kegelisahan ini mengungkapkan kepada kita bahwa kita dan Dia saling memiliki; Ada dan dekat.
Kecemasan, kegelisahan, bukanlah fenomena pikiran. Namun fenomena jiwa, psikis, mental dan spiritual. Sehingga dalam mengatasinya, rasionalisasi bukanlah cara yang tepat, bahkan hanya mengaburkan makna sejatinya saja.
Mengenal Tuhan, memahami karena mengalaminya, bukan suatu hal yang mustahil. Ghazali pernah mengatakan bahwa pengetahuan mengenal Allah (yang diperoleh dari makrifat) lebih tinggi mutunya dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan akal (Zahri, 1985:229), dan untuk mencapai ini, manusia harus melaksanakan serangkaian aktifitas spiritual, dengan kata lain, harus menjalankan mistisisme (banyak orang salah mengartikan kata “mistik”. Mistik sebenarnya adalah proses “penyatuan” Tuhan dan Hamba).
Pada tahun 700-an, banyak hidup para mistikus dan berhasil menemukan Tuhan dengan mistik. Para mistikus ini merindukan pengalaman tentang Tuhan yang sama dengan yang pernah dialami oleh Muhammad SAW ketika menerima wahyu (Armstrong, 2003:301).
Menurut para mistikus, Tuhan malahan berada jauh di dalam sanubari, sehingga untuk bertemu dengannya, manusia harus mengasah mata batinnya dan kontemplasi hingga titik terdalam, hingga memasuki ruang spiritual dan mengalami Tuhan tanpa harus menerima wahyu, tanpa harus menjadi nabi atau rasul. Segaris dengan ini, Descartes berkata bahwa memang akal dan pengalamanlah yang menjadi pokok segala pengetahuan untuk mengenal Tuhan, dan ia telah mendapatkan jalan. Maka jalan untuk mencapai kenyartaan Tuhan itu, seseorang harus lebih dahulu “melepaskan diri dari tubuhnya”, kemudian mencari kebenaran di dalam lautan diri terlepas dari jasmani. Pada diri saya ada perasaan yang telah tertanam bahwa adanya suatu Zat yang sempurna (Zahri, 1985:61) dan hal ini sejurus dengan apa yang diajarkan oleh Platonis dan Gnostis di jaman dahulu.
Melepaskan diri dari tubuh artinya mengalami apa yang disebut dengan Fana’, keadaan peniadaan diri, yang menjadi sesuatu yang amat sentral bagi cita-cita sufi atau mistikus (Armstrong, 2003:302). Ketika seseorang mengalami Fana, dia merasa bahwa dirinya lebur dan menyatu dengan apa yang dia cari, dia merasa ketiadaan dirinya dan menyatakan keadaan Tuhan. Jika seseorang telah mengalami “mabuk” mistis, maka kata-kata yang keluar dari lidahnya pun adalah perkataan Tuhan, dan ini dikenal dengan Kalam Qadim. Taraf ini memang tidak dapa dicapai oleh sembarang tipe pencari Tuhan. Misalnya seperti Al-Hallaj yang telah mengalami penyatuan dengan Tuhan, yang adalah akar cita-cita tauhid di dalam AlQur’an, pernah berpuisi
“Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia
Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami”.
Ini tentu saja hasil pengalaman mistik, penyatuan diri dengan Tuhan, dimana Armstrong berupaya untuk menjelaskannya “mengumpulkan dirinya yang menghilang, seorang mistikus akan mengalami kehadiran Tuhan dalam keutuhan pribadi (Armstrong, 2003:304).
Alhasil, Tuhan memang tidak dapat dijangkau dengan logika. Logika hanya mampu menangkap fenomena aktifitas Tuhan, namun untuk memahaminya, manusia harus mengalaminya (pathein) secara subjektif dan Tuhan adalah realitas yang tidak dapat dijangkau secara objektif.
Pengalaman mistis merupakan pengalaman merasakan hadirnya Tuhan beserta dan menyatu dalam kepribadian yang utuh, sehingga degan demikian, keyakinan mengenai Tuhan yang ada tidak lagi menjadi suatu misteri. Hanya para pencari tuhan yang mengandalkan logikanya saja yang gagal dan terjembab dalam kesesatan, menjadi manusia tak bertuhan dan serupa dengan para barbarian yang belum pernah dihampiri para nabi.
Demikian risalah ini, sebagai penutup, kami menyampaikan ungkapan terima kasih dan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan yang telah mengilhami kami dalam menyusun risalah ini, semoga risalah ini bermanfaat bagi kita sekalian.
Kalimat terakhir, Tuhan hanya dapat ditemui di dalam Ruang spiritual yang suci dan transenden, dan tidak mungkin dicapai oleh logika yang senantiasa mendistorsi makna realitas.

Senin, 30 Mei 2011

Manajemen Aksi

“Mahasiswa adalah aset umat. Ia bersifat elitis dan eksklusif. Jumlahnya hanya 2 % dari penduduk Indonesia yang 200 juta jiwa. Mahasiswa aktivis lebih elitis lagi, mungkin hanya ada 1 mahasiswa aktivis di antara 10 mahasiswa. Namun, agenda yang mereka perjuangkan sangat populis, dan realistis. Mahasiswa-lah yang bisa membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap rezim tiran. Mahasiswa-lah yang bisa mengawal reformasi hingga ke titik tujuan. Rakyat menaruh harapan atas kekuatan intelektual dan kekuatan aksi yang mahasiswa miliki.Jadi, pahami dirimu dan sekitarmu, dan mari kita bergerak lagi ! Reformasi belum usai !”
Dengan kekuatan intelektual di atas rata-rata masyarakat awam, mahasiswa memiliki kemudahan untuk mengakses berbagai informasi wacana dan peristiwa dalam lingkup lokal hingga internasional. Begitu juga dengan kemudahan akses literatur ilmiah dan gerakan-gerakan pemikiran, yang pada tujuan akhirnya akan menentukan ideologi atau sistem hidup yang akan dijalaninya. Buku yang ia baca, informasi yang ia terima, tokoh-tokoh yang ia ajak bicara, adalah beberapa faktor utama yang kelak sangat berpengaruh terhadap idealisme hidupnya.Selain kekuatan intelektual yang identik dengan aktivitas ilmiah, mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk menguatkan potensi kepekaan sosial politiknya. Disebut kepekaan sosial karena mahasiswa pada dasarnya adalah bagian dari rakyat. Apapun yang terjadi pada rakyat maka mahasiswa akan turut juga merasakannya. Kenaikan BBM, harga bahan pokok, listrik, dan air misalnya akan memberi ekses terhadap aktivitas kuliah. Disebut kepekaan politik, karena gejolak sosial yang terjadi umumnya selalu merupakan hasil side effect dari aktivitas politik, semisal disahkannya suatu UU. UU Ketenagakerjaan misalnya akan mempengaruhi kesejahteraan dan taraf hidup para buruh.Setelah cerdas secara profesi keilmuan dan cerdas sosial politik, maka sebagai gerakan ekstraparlementer mahasiswa memiliki kewajiban moral untuk mengimplementasikan pengetahuannya itu dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Atau dengan kata lain menyuarakan kepentingan kebenaran dan rakyat. Berbagai metode dapat dilakukan. Dari bentuk pendampingan, advokasi, public hearing, audiensi dengan pemerintah dan legislatif, hingga demonstrasi (aksi). Demonstrasi adalah cara paling efektif dalam menyuarakan kebenaran, khususnya jika dilaksanakan pada rezim yang antidemokratis dan tiran. Dalam makalah ini, akan dibahas sekelumit tentang manjamen demonstrasi atau aksi, yang selanjutnya akan disebut dengan MoA (Management of Action). Pengetahuan akan MoA ini menjadi penting agar niatan yang benar itu dapat mencapai hasil optimal karena dilakukan dengan cara yang benar pula. MANAJEMEN AKSIPengertianAksi (demontrasi) adalah suatu model pernyataan sikap, penyuaraan pendapat, opini, atau tuntutan yang dilakukan dengan jumlah massa terntentu dan dengan teknik tertentu agar mendapat perhatian dari pihak yang dituju tanpa menggunakan mekanisme konvensional (birokrasi). Demonstrasi juga bertujuan untuk menekan pembuat keputusan untuk melakukan sesuatu.
Latar Belakang dan Tujuan Aksi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’ dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat menjadi snowball. Dari isu mahasiswa menjadi isu masyarakat kebanyakan, seperti dalam kasus aksi menuntut mundur Soeharto.
Landasan Hukum Aksi adalah hak bahkan dalam situasi tertentu dapat menjadi kewajiban. Ia dilindungi oleh UU positif. Selain Declaration of Human Right (freedom of speech), hak aksi juga dilindungi oleh UUD 1945 pasal 28 beserta amandemennya. Secara lebih spesifik, aksi ini kemudian diatur dengan adanya UU No. 9/1998 tentang Mekanisme Penyampaian Pendapat di Muka Umum. UU ini mengharuskan panitia aksi harus memberikan pemberitahuan kepada pihak kepolisian setidaknya 3 hari menjelang hari H. Ketentuan lainnya adalah, didalam surat pemberitahuan itu harus ada nama penanggung jawab aksi, waktu pelaksanaan, rute yangh dilewati, isu yang dibawa, jumlah massa, dan bentuk aksi. Selain itu ada juga larangan untuk melakukan aksi pada hari-hari tertntu dan tempat-tempat tertentu. Dalam pandangan aktivis, UU ini pada awal pengesahannya dicurigai sebagai alat untuk mengibiri suara kritis mahasiswa dan rakyat. Dan pada perkembangannya, UU inilah yang digunakan oleh rezim berkuasa via aparat kepolisian untuk mematikan suara oposan, dengan banyak menyeret para aktivis ke penjara.
Kode EtikUntuk menjaga konsistensi gerakan, beberapa elemen gerakan mahasiswa memiliki kode etik aksi. Kode etik ini pula yang menjadi faktor pembeda aksi yang satu dengan aksi yang lainnya.Di KAMMI misalnya, kode etiknya adalah memulai dan menutup aksi dengan doa, tidak membaurkan peserta aksi putra dengan putri, dan tidak mencemooh seseorang dari cacat fisiknya. Faktor pembeda lainnya adalah lirik lagu-lagu perjuangan dan kata-kata pekik teriakan.
MEKANISME LAHIRNYA KEPUTUSAN AKSIKeputusan aksi sebaiknya didiskusikan secara matang analisis SWOT-nya. Organisasi intra kampus mempunyai mekanisme yang berbeda namun hampir sama dengan mahasiswa ekstra. Di ekstra jalur pengambilan keputusan lebih pendek sehingga keputusan aksi dapat lebih cepat dieksekusi. Secara garis besar mekanisme lahirnya keputusan aksi adalah sbb :
  1. Diskusi awal (Tim/Dept. Khusus : bidang Sospol), dteruskan ke :
  2. Diskusi Lanjutan (pelibatan kader, (unsur UKM), menghadirkan pakar, penerbitan Pers Release), lalu
  3. Pembentukan Tim Teknis Aksi
  4. Aksi di lapangan
MERANCANG AKSIDalam merancang aksi, hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah : planning aksi, perangkat aksi, pelaksanaan, dan kegiatan paska-aksi.
Planning AksiDalam tahap perencanaan aksi, hal urgen yang perlu diperhatikan adalah :
  1. Tema / Grand Issue. Pilihlah tema atau isu yang sedang hangat menjadi bahan pembicaraan (up to date) atau relevan atau sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan. Kemudian fokuskan, agar informasi atau opini yang hendak dibangun tidak bias.
  2. TargetSusun target. Baik target teknis seperti pencapaian jumlah massa dan blow up media, dan target esensi seperti isu tuntutan aksi. Begitu juga target siapa yang pihak yang hendak dituju.
  3. Skenario. Seperti halnya film, aksi butuh skenario, yang menjadi acuan bergeraknya aksi. Skenario ini mencakup rute, tokoh orator, happening art, dan acara lainnya. Sebaiknya skenario disiapkan lebih dari satu. Jika ada sesuatu hal di lapangan tak memungkinkan berjalannya sebuah skenario, dapat diganti dengan skenario lain (plan B).
    MassaDalam aksi yang mengandalkan massa, strategi penggalangan massa menjadi penting, demikian juga dengan cara mengendalikan massa jika massa berjumlah besar.
  4. PemberitahuanTergantung pada kebutuhan. Jika kita memutuskan untuk menulis pemberitahuan, maka lakukan sesuai dengan UU No. 9/1998. Begitu juga dengan pemberitahuan kepada media massa (release awal) agar kelak mereka dapat meliput kita.
    media interestAksi yang ‘menarik’ akan disukai oleh media. Karena itu perlu diperhatikan sebuah momen yang khusus didesain untuk konsumsi jurnalis foto, selain press release untuk jurnalis berita.
  5. Format Format atau bentuk aksi adalah pilihan dari banyak bentuk aksi. Pilihannya ada dua, format kekerasan atau nirkekerasan. Sebagai ‘penjaga gawang’ gerakan moral, maka seyogyanya aksi mahasiswa bersifat nirkekerasan. Aksi nirkekerasan ini sangat bervariatif sekali. Dimulai dari aksi diam (bisu), orasi, happening art, aksi topeng, mmogok makan, hingga ke blokade, pengepungan, dan boikot.
Perangkat Aksi Perangkat aksi adalah person-person yang terlibat dalam suksesnya sebuah aksi. Mereka diantaranya adalah :
  1. KorlapKoordinator Lapangan adalah pemegang komando ketika aksi sedang berjalan. Peserta aksi harus mentaati setiap arahan dari korlap. Korlap memperoleh masukan informasi dari perangkat lain yang akan digunakannya untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Korlap juga yang bertugas menjaga stamina massa agar tidak loyo dan tetap konsentrasi ke aksi. Korlap bukanlah amanah instant. Ia diperoleh dari proses jangka panjang. Korlap adalah orang paling mengerti tentang isu yang sedang diperjuangkan, sehingga wawasan pengetahuannya dapat dikatakan lebih banyak dari yang lainnya. Korlap dapat juga berorasi.
  2. OratorTerkadang diperlukan orator khusus selain korlap, khususnya pada aksi aliansi atau aksi yang melibatkan tokoh. Para orator ini menyampaikan orasi berdasarkan isu yang telah disepakati bersama. Bobot suatu orasi ditentukan oleh susunan kalimat, data up to date, dan kualitas pernyataan sikap. - AgitatorAgitator adalah pembangkit semangat massa dengan pekik teriakan disela-sela orasi korlap dan orator. Ia juga membantu korlap untuk menjaga stamina massa dengan memimpin lagu dan yel-yel.
  3. NegosiatorTerkadang diperlukan person yang khusus bertugas untuk melakukan negosiasi. Negosiasi ini dilakukan kepada aparat polisi atau pihak-pihak yang ingin dituju jika aksi di-setting audiensi.
  4. HumasTim Humas adalah salah satu elemen penting aksi. Tim humas bertanggung jawab dalam menjembatani aksi kepada para jurnalis. Mereka membuat pers release. Bobot Pers Release itu dibuat berdasarkan nilai-nilai jurnalistik. Disebut sukses jika media tidak bias memuat tuntutan atau opini yang hendak digulirkan oleh aksi.
  5. Security/borderTim ini bertugas menjaga keamanan peserta aksi. Mereka juga wajib untuk mengidentifikasi para penyusup atau aparat yang hendak memprovokasi agar aksi berakhir chaos. Tim ini memiliki bahasa tersendiri yang hanya diketahui oleh sedikit orang dari peserta aksi.
  6. DokumenterTim ini memback-up tim humas. Tetapi inti tugasnya adalah mendokumentasi aksi dari awal hingga akhir serta membuat kronologis aksi. Dokumentasi ini dengan kamera, handycam ataupun notes. Data ini akan digunakan sebagai bukti otentik jika aksi mengalami kekerasan dari aparat atau massa lain.
  7. MedikTugas ini memang spesifik bagi mereka yang menguasai ilmu medis. Umumnya adalah mahasiswa kedokteran atau mereka yang pernah terlibat dalam aktivitas kepalangmerahan atau bulan sabit merah. Tim ini memberikan pertolongan pertama kepada peserta aski yang mengalami cidera.- LogistikDalam aksi yang disetting lama dan melelahkan. Tim logistik bertugas untuk menyediakan sarana untuk membugarkan peserta aksi seperti air minum, snack dan sound system. Terkadang, mereka juga membuat dan mendesain kertas tuntutan atau karikatur.
  8. Tim kreatifTim ini memiliki kewenangan untuk mendesain sebuah atraksi seni atau instalasi sesuai amanat hasil musyawarah.
    Pelaksanaan dan Pasca Aksi Saat massa telah terkumpul di tempat yang telah ditentukan, maka korlap sebaiknya tidak langsung memberangkatkan peserta aksi sebelum ada taujih (nasehat) dan doa. Selain itu perlu juga adanya pemanasan (warming up) dengan cara melatih yel-yel atau orasi untuk pencerdasan peserta aksi. Warming-up ini bertujuan untuk mensolidasi peserta aksi. Setelah kompak, solid, dan cerdas barulah aksi dimulai.Saat aksi, peserta wajib menghormati komnado korlap dan turut menjaga keamanan aksi hingga aksi usai. Jika aksi disetting serius atau aksi bisu maka peserta harus menjauhkan dari kegiatan senda gurau dan ketidakseriusan. Seusai aksi, maka peserta menutupnya dengan doa. Evaluasi juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas aksi berikutnya. Tim humas juga memonitoring media untuk memantau keberhasilan blow-up media dan tingkat ke-bias-an tuntutan.
TIPS DAN TRIKS
  1. Angle fotoFoto dapat berbicara lebih banyak dari kata-kata. Maka desain aksi yang menyediakan angle foto yang baik akan membuat aksi lebih mudah ter-blow up. Misalnya: aksi LSM Pro Fauna yang membuat balon kura-kura raksasa dalam menentang eksploitasi kura-kura sebagai komoditas.
  2. Kalimat posterKalimat poster biasanya juga menjadi incaran fotografer. Pilihlah kalimat yang cerdas namun tetap mencerminkan akhlak seorang mahasiswa. Unik dan kreatif adalah kuncinya. Misal : IMF = International Monster Fund.
  3. UniformKeseragaman pakaian peserta aksi juga dapat menarik perhatian. Pakaian putih-putih, hitam-hitam atau mengenakan pakaian seperti orang utan untuk aksi mendukung keberlangsungan orang utan.
  4. PropagandaPropaganda dibuat untuk mencerdaskan masyarakat di sekitar aksi agar mereka mendukung aksi. Jika aksi dipusat keramaian, maka selebaran propaganda dapat menjadi bacaan yang mengusik perhatian.
  5. Pers releaseSelain data 5W+1H, pers release juga disusun dengan kalimat baik dan sudah sesuai dengan bahasa koran, sehingga redaktur tidak banyak mengedit. Adanya tambahan data dan angka dapat menambah bobot release.
  6. Yel/laguCiptakanlah yel-yel yang khas dan mudah diingat. Lagu bisa diperoleh dengan mengubah lirik dari lagu yang populis. Yel dan Lagu akan memelihara stamina massa.
  7. SymbolizedSimbolisasi perlu dilakukan untuk mencuri perhatian media jika massa aksi tidak terlalu banyak. Misalnya : aksi membawa tikus ke kantor DPRD untuk menyindir anggota dewan yang tak ubahnya seperti tikus-tikus pengerat.
  8. Aliansi taktisUntuk memperkuat posisi tawar, aliansi kadang diperlukan. Aliansi didasarkan pada pertimbangan kesamaan ideologi, atau kesamaan isu , atau kesamaan metode. Jika aliansi ini adalah dari universitas, maka bendera masing-masing universitas wajib untuk ditonjolkan.
  9. Menghadapi wartawan. Jika jurnalis TV mewawancarai peserta aksi, sebaiknya peserta tersebut mengarahkannya kepada tim humas atau korlapnya agar jurnalis itu dpat mewawancarai person yang lebih valid dalam memberikan keterangan. Ketika di wawancara, demonstran yang efektif merancang pesannya supaya bisa disampaikan secara utuh dalam tempo 10 hingga 15 detik. Setelah pesan disampaikan secara singkat, padat, dan utuh - baru kemudian dilakukan elaborasi. Ini menjaga agar pesan utama secara utuh tetap bisa tersiar walaupun mungkin elaborasinya terpotong. Hal ini disebabkan karena spot berita TV sangat singkat, berbeda dengan media cetak yang dapat memuat banyak.
Berhadapan dengan wartawan, jauhilah sikap arogan, tampakkanlah sikap ramah dan bersahabat. Sikap arogan membuat wartawan menjaga jarak, bahkan pada titik puncaknya wadah asosiasi mereka akan memboikot setiap kegiatan aksi kita.
Beberapa pertanyaan dari wartawan yang bisa diantisipasi oleh setiap peserta aksi adalah:- Mengapa anda berada disini?
- Apa yang ingin anda capai?
- Apakah demonstrasi ini sungguh-sungguh merupakan solusi?
- Apa yang bisa dilakukan oleh khalayak untuk masalah yang anda perjuangkan?

Kamis, 19 Mei 2011

JALUR PENERIMAAN MAHASISWA BARU UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2011


FAKULTAS DAN PRODI
A. Fakultas Syariah dan Hukum
Program S1, adalah Prodi:
1.      Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan
2.      Hukum Pidana dan Ketatanegaraan
3.      Ekonomi Islam
4.      Perbandingan Hukum
5.      Manajemen
6.      Ilmu Hukum
7.      Akuntansi
8.      Ilmu Ekonomi 
 
     B. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Program S1, adalah Prodi:
1.      Pendidikan Agama Islam
2.      Pendidikan Bahasa Arab
3.      Manajemen Pendidikan Islam
4.      Pendidikan Bahasa Inggris
5.      Pendidikan Matematika
6.      Pendidikan Biologi
7.      Pendidikan Fisika
8.      Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
     C. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Program S1, adalah Prodi:
1.      Filsafat Agama
2.      Ilmu Aqidah
3.      Sosiologi Agama
4.      Perbandingan Agama
5.      Ilmu Hadist
6.      Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
7.      Ilmu Politik

     D. FakultasAdab dan Humanion
Program S1, dengan Prodi:
1.      Bahasa dan Sastra Arab
2.      Sejarah dan Kebudayaan Islam
3.      Bahasa dan Sastra Inggris
4.      Ilmu Perpustakaan
     E. Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Program S1, dengan Prodi:
1.      Komunikasi dan Penyiaran Islam
2.      Bimbingan Penyuluhan Islam
3.      Pengembangan Masyarakat Islam
4.      Kesejahteraan Sosial
5.      Manajemen Dakwah
6.      Jurnalistik
7.      Komunikasi
     F. Fakultas Sains dan Teknologi
Program S1, dengan Prodi:
1.      Teknik Arsitektur
2.      Teknik Informatika
3.      Teknik Perencanaan wilayah dan kota
4.      Fisika
5.      Biologi
6.      Kimia
7.      Matematika
8.      Peternakan
9.      Sistem Informasi
     G. Fakultas Ilmu Kesehatan
Program S1, dengan Prodi:
1.      Kesehatan Masyarakat
2.      Keperawatan
3.      Farmasi
Program Diploma (D3)
-          Program Studi Kebidanan
JALUR, WAKTU DAN PENDAFTARAN
     A.     Jalur PMJK
a.       Pendaftaran : 1 Pebruari s.d. 31 Maret 2011
b.      Pembayaran pada Bank BNI Rek. 0083187854
     B.     Jalur SNMPTN
a.       Undangan :
Pendaftaran Online dari tgl. 1 Pebruari s.d. 12 Maret 2011
(Pada laman Http://undangan.snmptn.ac.id).
b.      Ujian Tertulis
-          Pendaftaran Online dari tanggal 2 – 24 Mei 2011
(Pada laman http://www.snmptn.ac.id).
-          Tes: Tgl. 31 Mei s.d. 1 juni 2011
c.       Pembayaran Pendaftaran jalur undangan dan ujian tulis pada Bank Mandiri.
     C.     Jalur SPMB-PTAIN
a.       Pendaftaran Online tgl. 21 Maret s.d. 1 juni 2011
(pada laman http://www.spmb.ptain.ac.id).
b.      Tes tgl. 7 juni 2011
     D.    Jalur UMB-PTN
a.   Pendaftaran Online dari tanggal 1 Juni s/d 5  Juni 2011 (pada laman http://www.spmb.or.id)
b.   Pembayaran pada Bank BNI dari tanggal 1 Juni s/d 4 Juli 2011
c.   Tes 9 Juli 2011
     E.     Jalur Ujian Masuk Lokal (UML)
a.       Pendaftaran Online dari tgl. 13 Juni s.d. 12 Juli 2011
(pada laman http://www.uin.-alauddin.ac.id).
b.      Pembayaran Pendaftaran pada Bank BNI
c.       Tes : 18 – 19 Juli 2011
     F.     Jalur Ujian Masuk Khusus (UMK)
a.       Pendaftaran 21 Juli s/d 10 Agustus 2011
b.      Pembayaran Pendaftaran pada Bank BNI Rek: 0083187854
c.       Tes : 13 – 14 Agustus 2011
BIAYA PENDAFTARAN
     A.    Jalur PMJK                           : Rp. 225.000,-
     B.     Jalur SNMPTN                    
a.      Undangan              : Rp. 175.000,-
b.      Ujian Tulis
b.1. IPA/IPS                : Rp. 150.000,-
b.2. IPC                       : Rp. 175.000,-
     C.    Jalur SPMB-PTAIN             : Rp. 150.000,- 
     D.    Jalur UMB-PTN                   : Rp. 150.000,-
     E.     Jalur UML                            : Rp. 225.000,-
     F.     Jalur UMK                            : Rp. 225.000,-

PERSYARATAN
Persyaratan Peserta Ujian masuk UIN Alauddin Makassar (semua jalur), sbb:
       a.       Tamatan SMA/SMK/MA/MAK. Pondok Pesantren, SMTA Luar Negeri, Ujian persamaan dsb tahun berjalan atau paling lama kelulusan 3 (tiga) tahun terakhir, tahun 2011, 2010, dan 2009.
      b.      Mempunyai kesehatan fisik tidak mengganggu kelancaran belajar di program studi pilihan (contoh: prodi yang belajarnya diperlukan membedakan warna dan tidak boleh buta warna).
       c.       Tinggi badan rata-rata, laki-laki = 155 cm dan perempuan = 150 cm, bagi yang memilih prodi keperawatan, kebidanan dan semua Prodi Kependidikan.

Minggu, 15 Mei 2011

Filsafat Ilmu Pengetahuan



Apakah Maksud Filsafat Ilmu Pengetahuan itu?Filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang obeyk materinya berpa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, betuyk dan sifatnya. Jadi meliputi pluralitas ilmu pengetahuan. Adapun obyek formanya berupa hakikat ilmu pengetahuan. Adapun jenis-jenis llmu pengetahuan menurut obyeknya dapat diklasifikasikan ke dalam ilmu pengetahuan :
Ø Ilmu pengetahuan humaniora dengan obyek materi manusia;
Ø Ilmu pengetahuan social dengan obyek materi Sosiologi
Apakah manfaat mempelajari Ilmu Pengetahuan?
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai otologis. Dengan paradigma ontologis, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan yang mampu mengatasi bahaya sekularisme nilmu pengetahuan
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasn nialai epistemologis. Dengan paradigma epistemologis, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai etis. Dengan paradigma etis, diharapkan dapat ,mendorong pertumbuhan perilaku adil yang mampu membentuk moral tanggung jawab, sehingga pemberdayaan ilmu poengethuan, teknologi dan perindusytrian semata-mata hanya untyuk kelangsungan kehidupan yang adil dan berkebdayaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipertanggung jawabkan bukan hanya bagi kepentingan subyek manusia saja, melainkan lebih daripada itu, demi kepentingan obyekl alam sebagai sumber kehidupan.
Sebagai konsekuensi kehadiran filsafat ilmu pengetahuan dalam peran fungsionalnya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan perindustrian seperti itu, mendorong Perguruan Tinggi untuk kembali ke basis akademik Tri Dharmanya.
Catatan Khusus Petingnya, Makna dan Metode.
Dari bahasan masalah pengetahuan, terdapat ha-hal mendasar yang perlu diangkat menjadi catatan khusus, yaitu:
Pertama: Pentingnya pengetahuan , yakni mengetahui secara benar tentang batas-batas pengetahuan, agar tidak melakukan penyelidikan dan pemikiran-pemikiran mengenai sesuatu hal yang pada akhirnya menjadi sia-sia karena tidak akan diketahui. Tetapi, apakah pengetahuan hanya terbatas pada kemampuan pengalaman idra dan pemikiran saja?
Kedua: Makna pengetahuan, jika dikatakan bahwa seserorang mempunyai pengetahuan, berarti ia mempunyai kepastian tentang sesuatu hal, dan bahwa apa yang dipikirkan di dalam pernyataan-pernyataan adalah sungguh-sungguh merupakan halnya sendiri. Tetapi, kenyataan membuktikan bahwa hampir tidak ada yang dapat dipastikan dalam kehidupan ini.
Ketiga, metode memperoleh pengetahuan, menentukan sifat kebenaran pengetahuan yang terdiri dari :
Ø Metode empirik [empirism]
Ø Metode rasional [rasionalism
Ø Metode fenomenologi [fenomenologism]
Ø Medote ilmia [menggabungkan metode empiris dan rasional] [hlm 81]
„Ilmu Pengetahuan“ ataukah „ilmu“Terminologi ilmu pengetahuan dicermati secara jeli oleh buku ini, karena pemaknaan yang yang keliru dan kadang membias, disamping sulit untuk dicerna, seringkali pula memberikan pemahaman yang tidak utuh.
Beberapa referensi yang dipandang relevan diketengahkan dalam buku ini:
Dalam Webster’s New Collegiate Dictionary, tertulis dua istilah: „knowledge“ dan „Science“.
Knowledge diartikan:
the fact or condition of knowing something with familiarity gained through experience or association
the fact or condition of being aware of something
the fact or condition of having information or being learned
the sum of what is know the body of truth, information, and principles acquired by mankind
Sedangkan Science [latin :’scire’], diartikan:
possession of knowledge as distinguished from ignorance or misunderstanding; knowledge attain through study or practice
a department of systematized knowledge as object of study [the science of technology ]
knowledge covering general truths or he operation of general laws esp. As obtained and tested through scientific method; such knowledge concerned with the physical world and phenomena [natural Science)
a system or method based of purporting to be based on scientific priciples
Dari Webster tersebut dapat disarikan sebagai berikut:
Knowledge, menjelaskan tentang adanya sesuatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari [regulary] melalui pengalaman kesadaran, informasi. Sedangkan Science didalamnya terkandung adanya pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah dan mencakup kebenaran umum mengenai obyek studi yang
lebih bersifat fisis [natural].
Jadi, “knowledge” dapat dipahami sebagai pengetahuan yang mempunyai cakupan lebih luas dan umum, sedangkan “science” dapat dipahami sebagi ilmu yang mempunyai cakupan yang lebih sempit dan khusus dalam arti metodis, sistematis, dan ilmiah.
Jika ilmu dipilih sebagai nama dikhawatirkan bias terjebak pada sekitar pengetahuan yang fisis, dank arena itu praktis, pragmatis dan positivistis. Pagdahal realitas yang harus diketahuai adalah bukan saja yang demikian itu, melainkan juga meliputi”pengetahuan” yang non fisis, kualitatif, dan spekulatif. “Ilmu” membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill atau ketrampilan yang bias mengkonsumsi masalah-masalah atau kebutuhan keseharian. Sedangkan “pengetahuan” membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan. Maka secara filosofis, tidaklah berlebihan jika dipilih nama” ilmu-pengetahuan”
Ilmu pengetahuan diharapkan dapat membuka pandangan dan wawasan yang luas, dalam, arti tidak terbatas hanya kepada obyek-obyek yang ada diluar diri manusia, yaitu kenyataan obyektif, atau hal-hal yang bersifat empiric dan positif saja. Melainkan dapat membentuk kesadaran dan sikap ilmiah [scientific attitude]. [hlm:86]
Cara kerja Ilmiah:Diadopsi penulis dari tulisan Titus Dkk, dan diselaraskan dengan pokok-pokok pikiran Jujun Suriasumantri. [1987] [hlm100]
Cara kerja ilmiah ditempuh dengan memperhatikan enam langkah metode, yakni:
1. Keinsafan tentang adanya problem
2. data yang relevan dan data yang tersedia
3. penertiban data
4. hipotesis dibentuk [diformulasikan]
5. deduksi dapat ditarik dari hipotesis
6. verifikasi setelah analisis secara deduktif.
Kecenderungan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan:Kecenderungan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan dapat juga disebuat sebagai kecenderungan etis. Ketertarikan etika sebenarnya adalah perwujuidan tanggung jawab pendukung ilmu pengetahuan jenis apapun agar tetap diarahkan pada orientasi yang sama, yaitu bagi terwujudnya ‘kebahagian hidup dan kehidupan seluruh umat manusia dan masyarakatnya di dalam ekosistem alam yang utuh”
Karakter Onotologis :[Adopsi pemikiran Lorens Bagus: 2000]Pandangan penulis terhadap hakikat leimuan, utamanya terkait dalam karakteristik ontologis.
Beberapa karakteristik ontologis, dapat disederhanakan sebagai berikut:


  • Ontologi adalah studi tentang arti „ada“ dan „berada“, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak
  • Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunkan ketegori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas, potensial, nyata atau merupakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya.
  • Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu Yang Satu8, Yang Absolut, Bentuk Abadi, Sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak kepada-Nya
  • Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya. [hlm:150]
Tanggung Jawab Pendidikan Tinggi.
Dalam simpulan buku ini, tertera sebuah harapan kepada Pendidikan Tinggi terkait dengan masalah Ilmu Pengetahuan. Oleh karena itu pendidikan tinggi harus mendukung pembaharu hidup dan kehidupan masyarakat dalam rangka menjcapai tujuan keilmuan, sehingga harus memerankan:
lembaga yang melakukan pembinaan daya inteletual
Pembinaan daya moral kearah tanggung jawab [ tentunya tanggungjawab keilmuan]
Kemudian berdasarkan tugas dan tujuan pendidikan tinggi menurut hakikat ilmu pengetahuan, maka hal-hal berikut ini kiranya wajar untuk dipertimbangkan dan dilaksanakan sebagai jalan menuju reorientasi:

  • Mengembangkan kampus yang bebas dan otonom, dalam membangun sikap ilmiah tanpa pengaruh apapun. Inilah yang mejadikan dasar pembentukan sikap ilmiah yang mandiri

  • Dalam penyusunan model kurikulum harus tetap mengaci pada sikap keilmuan

BERPIKIR SEPERTI FILOSOF

BUKU INI INGIN MEMOTIVASI ORANG BAHWA FILSAFAT ITU MUDAH
Hendra Halomon Sipayung, penulis buku ini, punya niatan mengubah paradigma yang salah dalam mempelajarai filsafat, sekaligus juga ingin menjebol belenggu yang kerap keliru, ketika orang beranggapan bahwa mempelajari filsafat itu sulit. sisi lain ada seorang orang yang membikin sebuah mitos bahwa mempelajari filsafat itu hanya untuk orang-orang tertentu, bahakan tidak semua orang dapat memahami filsafat. Kenyataan itu membuat barier yang kuat sehingga orang memvonis filsafat itu adalah sulit. Sisi lain ada anggapan yang keliru, bahwa mempelajari filsafat akan menjauhkan seorang-oreang dari ranah agama, dan kecederung masuk kedomain atheis, serta sekularis.
Buku ini ini menghapus stigma buruk itu, dan dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang itu berfilsafat, setiap orang melakukan kajain filsafati, kendati tidak disadari.
Rupanya buku ini memotivasi siapapun untuk belajar filsafat dengan mudah, bahkan buku ini terkesan menuntun orang sekaligus memotivasi. 

SYARAT BERPIKIR ALA FILOSOF
Pertama, Anda harus berani mempertanyakan segala sesuatu termasuk hal-hal yang Anda yakini dan seterusnya
Kedua, Anda harus mampu menjawab segala pertanyaan dan keraguan Anda untuk mendapatkan penjelasan yang holistik. Karena filsafat berupaya untuk mendapatkan kebenaran universal tentang realitas.
TIPS MENGGALI IDE DARI BUKU-BUKU FILSAFAT:
  1. Bacalah keseluruhan sebuah buku filsafat secara sistematis. Cobalah membuat ulasan tentang bukuntersebut, apakah yang sedang dibahas dan gaya penuilisnnya
  2. Kemudian baca dengan lebih berkonsentrasi untuk mengetahuai mana maslah yang sedang dibahas, pandangan-pandangan penulis dan argumen-argumennya
  3. Kajilah setiap bagian yang relevan, coba analisis argumen yang disampaikan. Kemudian buat kerangka tulisan
  4. Cobalah membaca secara akatif. Sewaktu Anda membaca, tanyakan pada diri Anda sendiri: apakah masalah yang sedang dibicarakan? didasarkan pada asumsi apa argumen itu dibangun? apakah argumen valid dan masuk akal? Bagaimana argumen tersebut membentuk karya secara keseluruhan? Jika ada, apakah kesalahan itu instruktif? Mengapa kesalahan itu dibuat dan bagaimnan memperbaikinya?
  5. Jika Anda mempunyai waktu, bacalah kembali keseluruhan karya itu untuk memperoleh pengertian tentang kesimpulan dan tujuan keseluruhannya, lalu berikan evaluasi terhadap keutuhan dan konsistensinya.
TIPS MEMBACA BUKU-BUKU FILSAFAT SECARA POSITIF
Hukum pertama: bacalah buku-buku filsafat secara kritis
Hukum Kedua: Jangan pernah membaca buku filsafat sekali
Hukum Ketiga: Tulisakan apa yang di benak Anda saat membaca karya filsafat
Hukum Keempat: Tetap jaga jarak pribadi dengan buku yang Anda baca

Teori Kebenaran

Pengantar

Apakah kebenaran itu, suatu pertanyaan yang sangat menukiki bila kita sedang mendebatkan masalah. Apakah itu masalah ekonomi hingga politik yang rumit.
Kebenaran acapkali diperdebatkan, namun makna sebenarnya acapkali ditinggal.
“Jika anak kecil digigit anjing maka yang benar anak tersebut harus berganti menggigit anjing”, apakah ini juga suatu kebenaran ??


TEORI KORESPONDENSI TENTANG KEBENARAN
Teori yang pertama ialah teori korespondensi [Correspondence Theory of Truth], yang kadang kala disebut The accordance Theory of Truth. Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian [correspondence] antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.

a proposition (or meaning) is true if there is a fact to which it corresponds, if it expresses what is the case

[Suatu proposisi atau pengertian adalah benar jika terdapat suatu fakta yang selaras dengan kenyataannya, atau jika ia menyatakan apa adanya].

"Truth is that which conforms to fact; which agrees with reality; which corresponds to the actual situation."

[Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang beralasan dengan realitas, yang serasi (corresponds) dengan situasi actual].

Truth is that which to fact or agrees with actual situation. Truth is the agreement between the statement of fact and actual fact, or between the judgment and the environmental situation of which the judgment claims to be an interpretation."
[Kebenaran ialah suatu yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi aktual. Kebenaran ialah persesuaian (agreement) antara pernyataan (statement) mengenai fakta dengan fakta aktual; atau antara putusan (Judgment) dengan situasi seputar (Enviromental situation) yang diberinya intepretasi.

“if a judgment corresponds with the facts, it is the true; if not, it is false."

[Jika suatu putusan sesuai dengan fakta, maka dapat dikatakan benar ; Jika tidak maka dapat dikatakan salah].

Teori korespondensi ini sering dianut oleh realisme/empirisme.
K. Rogers, adalah seorang orang penganut realisme kritis Amerika, yang berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam obyeknya".

"Epistemological realism.The view that there is an independent reality apart from minds, and we do not change it when we come to experience or to know it; sometimes called objectivism"[Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independence (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran; dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahami. Itulah sebabnya realisme epitemologis kadangkala disebut obyektivisme]. Dengan perkataan lain: realisme epistemologis atau obyektivisme
berpegang kepada kemandirian sebuah kenyataan tidak tergantung pada yang di luarnya.
Dalam perpustakaan Marxis dapat dibaca :

If our sensations, perception, notions, concepts and theories corresponds to objective reality, if reflect if faithfully, we say that they are true, while true statement, judgment or theories are called the truth.
[Jika sensasi kita, persepsi kita, pemahaman kita, konsep dan teori kita bersesuaian dengan realitas obyektif, dan jika itu semua mencerminkannya dengan cermat, maka kita katakan itu semua benar: pernyataan, putusan dan teori yang benar kita sebut kebenaran].

"Dialectical materialism understands truth as that knowledge of an objective/ with correctly reflect this objectives, i.e. correspond to it"
[Materialisme dialektika memahamkan kebenaran sebagai pengetahuan tentang sesuatu obyek, yang mencerminkan obyek tersebut secara tepat, dengan perkataan lain, bersesuaian dengan obyek yang dimaksud]

"For example, the scientific propositions that "Bodies consists of atoms", that the " Earth prior to man", that "the people are makers of history", etc. are true
"
[misalnya pengertian ilmiah bahwa "tubuh terdiri dari atom-atom"' bahwa "Bumi lebih dahulu ada dari pada manusia", bahwa "rakyat adalah pembuat sejarah", dan lain sebagainya, adalah benar].

In contrast to idealism, dialectical materialism maintains that truth is objective. Since truth reflects the objectively existing word, its content does not depend on man’s consciousness.

Objective truth, LENIN Wrote, is the content of our knowledge, which neither on mans, nor on mankind. The content of truth is fully determined by the objective process it reflects
Berlawanan dengan idealisme, maka meterialisme dialektika mempertahankan bahwa kebenaran adalah obeyektif. Selama kebenaran mencerminkan dunia wujud secara obyektif, maka wujudnya itu tergantung pada kesadaran manusia. Kebenaran obyektif, tulis Lenin, adalah kandungan pengetahuan kita yang tidak tergantung, baik kepada manusia maupun kepada kemanusiaan. Kandungan kebenaran sepenuhnya ditentukan oleh proses abyektif yang tercerminkannya.

LENIN Menulis:

"From live contemplation to abstract thinking and from that to practice, such is the dialectical process of cognizing the truth, of cognizing objective reality.
[Dari renungan yang hidup menuju ke pemikiran yang abstrak, dan dari situ menuju praktek, demikianlah proses dialektis tentang pengenalan atas kebenaran, atas realitas obyektif].
Selajunya kaum marxist mengenal dua macam kebenaran, yaitu (a) kebenaran mutlak dan (b) kebenaran relatif]
"Absolute truth is objective truth in its entirety, an absolutely exact reflection of reality"

[Kebenaran mutlak ialah kebenaran yang selengkapnya obyektif, yaitu suatu pencerminan dari realitas secara pasti mutlak]

" Relative truth is incomplete correspondence of knowledge to reality. Lenin called this truth the relatively true reflection of an object which is independent of man"

[Kebenaran relatif adalah pengetahuan mengenai relaitas yang kesesuaianya tidak lengkap, tidak sempurna. Menurut Lenin, kebenaran relatif adalah pencerminan dari obyek yang relatif benar, yang terbatas dari manusia].

"Every truth is objective truth”[setiap kebenaran adalah kebenaran yang obyektif].

"Relative truth is imperfect, incomplete truth.

[kebenaran relatif adalah kebenaran yang tidak sempurna, tidak lengkap]


SIMPULAN :
Mengenai Teori Korespondensi tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kita mengenal dua hal, yaitu : pertama pernyataan dan kedua keyataan. Menurut teori ini kebenartan iaah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu sendiri.
Sebagai contoh dapat dikemukakan : " Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur sekarang" ini adalah sebuah pernyataan; dan apabila kenyataannya memang Surabaya adalah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ", pernyataan itu benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.
Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari ARIESTOTELES, dan disebut teori penggambaran yang definisinya berbunyi sebagai berikut :


“VERITAS EST ADAEQUATIO INTELCTUS ET RHEI”
[kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan].
TEORI KONSISTENSI TENTANG KEBENARAN

Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi.
The Consistence Theory Of Truth, yang sering disebut dengan The coherence Theory Of Truth.

" According to this theory truth is not constituted by the relation between a judgment and something else, a fact or really, but by relations between judgment themselves "


[Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lalu, yakni fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri].
Dengan demikian, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui benarnya terlebih dahulu.
Jadi suatu proposisi itu cenderung untuk benar jika proposisi itu coherent [saling berhubungan] dengan proposisi yang benar, atau jika arti yang terkandung oleh proposisi tersebut koheren dengan pengalaman kita.

" A belief is true not because it agrees with fact but because it agrees, that is to say, harmonizes, with the body knowledge that we presses”


[Suatu kepercayaan adalah benar, bukan karena bersesuaian dengan fakta, melainkan bersesuaian/selaras dengan pengetahuan yang kita miliki]

"It the maintained that when we accept new belief as truths it is on the basis of the manner in witch they cohere with knowledge we already posses”
[Jika kita menerima kepercayan-kepercayaan baru sebagai kebenaran-kebenaran, maka hal itu semata-mata atas dasar kepercayaan itu saling berhubungan [cohere] dengan pengetahuan yang kita miliki]

“A judgment is true it if consistent with other judgment that are accepted or know to be true. True judgment is logically coherent with other relevance judgment”

[suatu putusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang terlebih dahulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevance]
Jadi menurut teori ini , putusan yangh satu dengan puitusan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lainnya.

"The truth is systematic coherence
[Kebenaran adalah saling hubungan yang sistematik]

" Truth is consistency”[kebenaran adalah konsistensi, selaras, kecocokan]
Selanjutnya teori konsistensi/koherensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang lebih dahulu kita akui/ terima/ ketahui kebenarannya.
Kedua:
Teori ini dapat juga dinamakan teori justifikasi tentang kebenaran, karena menurut teori ini suatu putusan dianggap benar apabila mendapat justifikasi putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah dikatahu kebenarannya.
Misalnya:
Bungkarno, adalah ayahanda Megawati Sukarno Puteri, adalah pernyataan yang kita ketahui, kita terima, dan kita anggap benar.
Jika terdapat penyataan yang koheren dengan pernyataan tersebut diatas, maka pernyataan ini dapat dinyatakan Benar. Kerena koheren dengan pernyataan yang dahulu:
Misalnya.
- Bungkarno memiliki anak bernama Megawati Sukarno Putri
- Anak-anak Bungkarno ada yang bernama Megawati Sukarno Putri
- Megawati Sukarno Putri adalah keturunan Bungkarno
- Dll


TEORI PRAGMATISME
Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, the pragmatic [pramatist] theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan.
Falsafah ini dikembangan oleh seortang orang bernama William James di Amerika Serikat.
Menurut filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat.
Suatu kebenaran atau suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, jiak membawa akibat yang memuaskan, dan jika berlaku dalam praktik, serta memiliki niali praktis, maka dapat dinyatakan benar dan memiliki nilai kebenaran.
Kebenaran terbukti oleh kegunannya, dan akibat-akibat praktisnya. Sehingga kebenaran dinyatakan sebagai segala sesuatu yang berlaku.
Menurut William James “ ide-ide yang benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, jika kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa.
Menurut penganut praktis, sebuah kebenaran dimaknakan jika memiliki nilai kegunaan [utility] dapat dikerjakan [workability], akibat atau pengaruhnya yang memuaskan [satisfactory consequence].
Dinyatakan sebuah kebenaran itu jika memilki “hasil yang memuaskan “[satisfactory result], bila :
Sesuatu yang benar jika memuaskan keinginan dan tujuan manusia
Sesuatu yang benar jika dapat diuji benar dengan eksperimen
Sesuatu yang benar jika mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.

Senin, 02 Mei 2011

Rancangan Program Yahudi (PRIMASON)

1. Program Pertama dinamakan “Takkim”, yaitu:
* Pada masa Isa a.s.
Orang-orang Yahudi dengan segala tipu daya ingin membunuh Nabi Isa a.s. diantaranya fitnahan keji “ingin menjadi Raja Yahudi” yang disampaikan pada penguasa Romawi. Tetapi Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa a.s. dan gantinya Yudas tersalib di Golgota
. Maka setelah tiadanya nabi Isa a.s., Yahudi berusaha menghancurkan ajaran yang sudah disebarkan dengan “Takkim” yaitu:
a. Merusak ajarannya yang ada seperti menghalalkan yang halal dan sebaliknya.
b. Merusak akidah dengan doktrin Trinitas
c. Merusak Injil yang ada dengan Injil palsu
d. Saul (Paulus) dijadikan tandingan Nabi Isa a.s
* Pada Masa Islam
a. Pada masa Rasulullah orang-orang Yahudi memupuk Munafiqin dan Muhadin. Mereka diantaranya berusaha menfitnah istri Nabi, mengacaukan ajaran Islam, memecah belah kaum Anshor dan Muhajirin.
b. Memecah belah Ali r.a dan Muawiyah r.a. sehingga Aisyah turun tangan.
c. Membuat ratusan hadist-hadist palsu, memasukkan dongeng Israiliyat merubah penafsiran Al-Quran dan sebagainya
d. Mendangkalkan aqidah umat dengan filsafat Yunani sehingga timbul aliran kerahiban, tarikat sufi, mu’tazilah dan sebagainya. Maka datanglah filsuf-filsuf Islam yang menguraikan akidah Islam dengan jalan filsafat Yunani, menuruti pikiran Aflatun (Plato), Aristun (Aristoteles) dan lainnya.
e. Membuat lembaga pendidikan Islam yang dipimpin seorang alim didikan Freemasonry yang menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadist dengan alam pikiran Freemasonry
f. Menghidupkan sunnah-sunnah jahiliah dengan alasan melestarikan adat istiadat nenek moyang.
g. Menjadikan Islam supaya tasyabbuh dengan Nasrani dan agama lain, diantaranya dengan memasukkan bentuk nyanyian Gereja ke Masjid, ulang tahun dan sebagainya

2. Program Kedua dinamakan “Shada” yaitu;Membentuk agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia.
Salah satunya yaitu di India ketika Islam bangkit untuk kembali ke Al-Quran dan Hadist dan mengobarkan Jihad fisabilillah, pihak penjajah Inggris bekerja sama dengan Freemasonry mendirikan gerakan anti Jihad. Antara lain yaitu dengan menggalakkan sufi dengan perantara ulama bayaran anggota Freemasonry. Ditunjuknya seorang Freemason “Mirza Ghulam Ahmad”, ia mendakwakan dirinya sebgai Nabi akhir zaman, Budha Awatara, Krisna, dan semacamnya.
Rabithah Alam Islami yang bersidang di Makkah 14-18 Rabi’ul Awwal 1394 memutuskan bahwa Ahmadiyah itu bukan Islam dan berkaitan dengan Zionisme.
Dan kasus-kasus “aliran sesat Islam” yang beredar di Indonesia seperti sholat dua bahasa, dan lainnya, kemungkinan besar berkaitan dengan program Freemasonry

3. Program Ketiga dinamakan “Parokim”, yaitu;a. Membuat gerakan yang bertentangan untuk satu tujuan (cermati LSM-LSM beraliran “kiri” yang bertentangan secara ideologis dengan LSM-LSM “kanan”, mereka dapat dana gerakan dari mana). Mengembangkan Freemasonry lokal dalam suatu negara dengan nama lokal, tetapi tiada lepas dari asas dan tujuan Freemasonry. (Pertimbangkan Opus Supremus, Rotary Club, Lions Club, JIL, dan sebagainya.)
b. Mendukung teori-teori bertentangan. (Cek kelahiran Komunisme dan Fascisme, teori linguistik Behaviourisme dan Transformative-Generative, dll)
c. Membangkitkan khurafat dan menyiarkan teori Sigmund Freud (psikologi yang dikembangkan dari naluri sex) dan Charles Darwin (evolusionisme yang banyak dibantah oleh kalangan beragama, dari Islam misalnya Harun Yahya dengan berbagai bukunya, dari Kristen misalnya Caryl Matrisciana dan Roger Oakland dengan bukunya THE EVOLUTION CONSPIRACY: REVEALING THE HIDDEN AGENDA TO DECEIVE MANKIND) sehingga antara antara Ilmu pengetahuan dan agama bersaing, kalah mengalahkan. (cek misalnya dalam novel Dan Brown, ANGELS AND DEMONS)

4. Program Keempat dinamakan “Libarim”, yaitu;a. Melenyapkan etika klasik yang mengekang pergaulan muda-mudi, termasuk melalui penyebaran kebebasan seksual (See? Apakah pergaulan bebas terjadi begitu saja secara KEBETULAN, bukannya tanpa scenario?)
b. Menghapus hukum yang melarang kimpoi antar-agama untuk menurunkan generasi bebas agama (salah satu program JIL)
c. Pengambangan pendidikan seks di sekolah-sekolah
d. Persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal “kedudukan waris” dan “pakaian” (salah satu program JIL)
e. Menggembalakan pemuda-pemudi ke dunia khayali, dunia musik, dan narkoba. (see? Pertimbangkan dunia keartisan.) Serta membuat bet satan (rumah setan) untuk menampung pemuda-pemudi kedalamnya. (cermati beberapa diskotik peredaran narkoba dan miras, diskotik tempat mencari mangsa untuk anggota Gereja Setan yang pernah menggegerkan Jakarta dan Manado.)
e. Mengorganisir kaum lesbian, gay, (ingat lagi insiden yang dilakukan oleh unsur mahasiswa IAIN Semarang) Lutherian serta pengakuan hak mereka dalam hukum. (cermati komentar-komentar oleh aktivis HAM yang membela mati-matian kepentingan mereka, apakah karena mereka memang ingin memanusiakan “manusia” ataukah kerena berada dalam satu team dengan kepentingan yang sejalan, atau yang lebih parah, apa karena dibayar?

5. Program Kelima dinamakan “Babill’, yaitu;
yakni memupuk asas kebangsaan setiap bangsa dan menjaga kemurnian bangsa Yahudi. (Apakah ini sebuah peringatan atau ancaman terhadap anda yang berjiwa “nasionalis”? Apa-apa demi Negara, kapan demi Alloh atau demi Agama Islam nya? Apakah anda yang Nasionalis memahami bahwa kalian itu sedang dipecah belah? Buka mata anda, saudara-saudaraku sesama manusia…)

6. Program Keenam dinamakan “Onan”, yaitu;a. Mengekang pertumbuhan bangsa Goyim (orang selain Yahudi) [pertimbangkan kembali program KB bagi anda umat Islam, dan ingatlah sebuah hadits yang menyuruh muslimin-muslimat untuk mempunyai keturunan yang banyak agar kelak bisa dibanggakan Nabi Muhammad diantara umat nabi-nabi yang lain. Baca sebuah buku kecil berjudul UPAYA MUSUH MENGHANCURKAN ISLAM MELALUI KELUARGA karya Sa’duddin as Sayyid Shalih untuk mengetahui busuknya program KB, termasuk hasil riset di Negara-negara barat.
b. Menyuburkan perempuan-perempuan Yahudi menjadi peridi. (sungguh terbalik dengan Negara kita misalnya, yang begitu giat mendukung program KB.)

7. Program Ketujuh dinamakan “Protokol”, yaitu;protokol khusus untuk program bangsa Yahudi dalam Suhyuniah (zionisme) yang dimulai dengan pengantar protokol.
Isi protokol adalah tentang rencana Yahudi untuk menguasai dunia, diantaranya peghancuran ekonomi suatu negara, penghancuran moral suatu bangsa dan banyak lagi. Dengan program protokol bangsa Yahudi dapat menjadi penguasa ekonomi dunia, pengatur Politik dan penerangan dunia

8. Program Kedelapan dinamakan “Gorgah”, yaitu;a. Untuk merusak para pemimpin negara, ulama dan partai, mereka harus dijerumuskan dalam pasar seks dengan seribu satu jalan. Pepatah Yahudi mengatakan”jadikanlah perempuan cantik untuk alat suatu permainan siasat.” (cek kembali skandal Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Bagaimana dengan Gus Dur dan Ariyanti? Yahya Zaini dan Maria Eva?)
b. Membuat jerat dan jala seks bagi seseorang yang terhormat. Jika namanya disiarkan sehingga kehormatannya jatuh.
c. Menyebarkan agen Kasisah, yaitu intel Fremasonry untuk menghancurkan martabat lawan di tempat-tempat maksiat.
d. Mendirikan gedung perjudian terbesar dan modern. (Las Vegas?)
e. Melemahkan pasukan lawan dengan perempuan dan obat khusus. (Cek masalah vaksinasi yang tidak menyelesaikan masalah tapi justru mengakibatkan masalah kesehatan, atau fluoride yang tidak hanya membuat gigi kuat tapi juga membuat bodoh, menurut pakar-pakar kesehatan barat

9. Program Kesembilan dinamakan “Plotisme”, yaitu;a. Mendidik alim ulama Plotis yang pahamnya terapung ambang. (ustadz gaul yang ganteng, wangi, dan bersuara merdu, yang mengomentari secara positif tayangan khurafat bersampul “hidayah” apakah termasuk golongan ini?)
b. Alim ulama plotis itu disebarkan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga Islam.
c. Alim ulama Plotis harus diangkat menjadi anggota kehormatan Freemasonry

10. Program Kesepuluh dinamakan “Qornun”, yaitu;a. Orang-orang yang terpilih yang berbahaya bagi Freemasonry didukung agar menjadi kaya sehingga bergelimang harta, tetapi akhirnya diperas secara halus oleh suruhan Freemasonry
b. Memberi dana pendidikan bagi pendidikan agama dalam hal berniaga, bertani, dan sebgainya sehingga mereka sibuk dalam keduniaan.
c. Lawan-lawan Freemasonry agar terjerat riba dan bank Freemasonry
d. Menghasut dan memberi jalan dengan berbagai cara agar para pejabat bank diluar bank Yahudi melakukan korupsi sehingga bank tersebut hancur dan kelak bank itu dibantu oleh bank Freemasonry dengan ikatan yang kuat. Bank itu akan bersiri kembalio dengan tujuh puluh lima persen modal Yahudi. Kemudian pemimpin bank dan karyawan tersebut diberi ajaran Freemasonry dan menjadi anggotanya